Sabtu, 24 Februari 2018

Pegiat Sejarah Kecewa Gedung Bekas Tan Malaka Tak Boleh Dipakai

Oleh :

Tempo.co

Rabu, 13 September 2017 21:19 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegiat Sejarah Kecewa Gedung Bekas Tan Malaka Tak Boleh Dipakai

    Tan Malaka: Satu Wajah, Seribu Nama.

    TEMPO.CO, Semarang - Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Kota Semarang menyayangkan sikap Yayasan Balai Muslimin (Yabami) yang melarang pengunaan gedung bekas tempat Tan Malaka  mengajar. Gedung milik Sarekat Islam  (SI)  yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya itu sebelumnya sempat mangkrak, namun direvitalisasi  oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada 2015.

    “Saya meyayangkan. Dulu sempat mangkrak, kami ajukan diselamatkan dan mendapat kepedulian pemerintah. Sekarang malah dilarang menggunakan,” kata aktivis Komunitas Pegiat Sejarah Kota Semarang, Yunantyo Adi , Rabu 13 September 2017.

    Baca: Tan Malaka Terkenal di Dunia Penyamaran

    Yunantyo menilai Yayasan Balai Muslimin selaku penerima wakaf gedung yang dulu dibangun Sarekat Islam  pada era cultuurstelsel  dan masuknya industrialiasi di Semarang itu sengaja diterlantarkan. Larangan penggunaan gedung juga tertulis  di pintu masuk. 

    Larangan penggunaan bekas tempat Tan Malaka  mengajar itu diposting Rukardi, aktivis KPS, belum lama ini. Postingan yang dilengkapi foto itu menimbulkan protes. “Ini dibangun menggunakan uang iuran dan sumbangan material dari para buruh, petani, pedagang pasar, pegawai kecil, kusir dokar, babu, jongos, serta unsur rakyat jelata lain,” kata Rukardi.

    Simak: Fadli Zon Resmikan Makam Tan Malaka

    Menurut dia gedung Sarekat Islam dulu menjelma menjadi rumah pergerakan yang bergemuruh. Rumah yang melahirkan pemimpin-pemimpin muda pemberani, yang gencar melancarkan perlawanan terhadap pemerintah kolonial.  “Tapi kini, gedung tua yang telah dikonservasi dengan anggaran Rp 600 juta ini terlihat sepi. Bukan lantaran tak ada lagi yang peduli, tapi karena... Ah, silakan baca pengumuman itu sendiri,” tulis Rukardi.

    Pengelola Yayasan Balai Muslimin, Rifki Hasan Muslim, engan komentar saat dimintai konfirmasi Tempo. Sebabnya, dia merasa tak berhak komentar terhadap larangan penggunaan gedung tersebut. “Saya tak berhak komentar, silakan hubungi pengurus lain,” kata Rifki.

    Sikap yang sama juga disampaikan oleh pengurus lain, Sjamsudin  Hamidy. Ia ogah menjelaskan alasan penutupan gedung wakaf dari penguasa darurat perang  usai meletusnya tragedi berdarah 1965 itu.

    EDI FAISOL


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    INFO Pentingnya Memilah Sampah Sesuai Jenisnya

    Pilahlah sampah sesuai jenisnya, sampah organik, anorganik, dan sampah lainnya.