Pengusaha Tahir Bantu 12 TKI yang Gajinya tak Dibayar

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja migran asal Indonesia di sektor domestik sangat rentan.

    Pekerja migran asal Indonesia di sektor domestik sangat rentan.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengusaha dan filantropis Dato’ Sri Tahir melalui Tahir Foundation memberikan bantuan sebesar US$ 111.000 (hampir Rp 1,5 miliar) kepada 12 Tenaha Kerja Indonesia (TKI) di Amman, Yordania,  yang gajinya tidak dibayar majikan. Pemberian bantuan itu dilakukan di kantor Kementerian Ketenagakerjaan RI, Jakarta, disaksikan oleh Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri, perwakilan KBRI Yordania, serta Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan TKI (BNP2TKI).

    “Pemerintah sangat mengapresiasi kontribusi yang diberikan Dato’ Tahir terhadap 12 TKI yang bermasalah di Yordania. Banyak pengusaha yang memiliki kepedulian sosial, namun sedikit yang peduli pada nasib TKI,” ujar Menteri Hanif.

    Menurut Hanif, pekerja migran asal Indonesia di sektor domestik memang sangat rentan. Karenanya, kata Hanif,  pemerintah telah melarang pengiriman TKI sektor domestik ini ke 19 negara di kawasan Timur Tengah. Pemerintah juga terus mengupayakan perlindungan maksimal kepada TKI dengan melibatkan Atasase Ketenagakerjaan dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di tiap-tiap negara pengguna TKI. “Selain itu, pemerintah juga mengupayakan  kesepakatan perlindungan yang mengikat dengan negara-negara penerima TKI, untuk melindungi TKI dan keluarganya serta peningkatan kompetensi TKI,” ucapnya.

    Sebanyak 12 TKI yang menerima bantuan dari Dato’ Tahir itu adalah Tati Hartati binti Hidayat Saman (Tangerang, Banten), Nining Binti Nakib Emin (Karawang, Jawa Barat), Ikah Islamiyah (Bantul DI Yogyakarta), Idah Rosyidah binti Juarta Ana (Bandung, Jawa Barat), Tira binti Tirya (Majalengk, Jawa Barat), Khusnul Khotimah (Pamekasan, Jawa Timur), Jumiah binti Nurite (Lombok Tengah, NTB), Musjalifah (Banjarmasin, Kalimantan Selatan), serta empat lainnya dari Indramayu Jawa Barat atas nama Siti Soleha, Yuyun Yuniati, Maslikah dan Siti Aisyah. Mereka tiba di Indonesia sejak 6 September 2017. “Kembalinya 12 TKI tersebut menunjukkan kerja sama yang baik dari berbagai pihak, yakni Kemenaker, Kementrian Luar Negeri khususnya KBRI Yordania, BNP2TKI, serta Tahir Foundation,” tutur Hanif.

    Kepedulian Tahir atas 12 nasib TKI itu bermula ketika dirinya yang juga sebagai Eminent Advocate dari Komisioner UNHCR (Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Pengungsi), berkunjung ke Yordania untuk memberikan bantuan kepada pengungsi Suriah. Oleh pihak KBRI di Amman, Yordani, Tahir dipertemukan dengan ke 12 TKI tersebut yang tinggal dalam penampungan KBRI. Mereka melarikan diri dari majikan karena tidak dibayar gajinya. Ada yang tidak menerima gaji selama satu tahun, bahkan ada yang sampai 10 tahun.

    Pertemuan tersebut mengetuk hati Tahir untuk membantu memberikan bantuan sebagai ganti sebagian gaji serta memulangkannya ke tanah air. “Sungguh tidak bisa diterima akal, orang bekerja bertahun-tahun tanpa menerima upah. Ini sungguh tidak adil,” kata Tahir.

    Dalam kesempatan tersebut, Tahir menyatakan komitmennya mendukung pemerintah yang terus berupaya mengurangi pengiriman TKI  sektor domestik serta hanya akan mengirim TKI terampil.

    Baik Menteri Hanif maupun Tahir menghimbau agar bantuan yang telah diterima hendaknya tidak digunakan untuk kepentingan konsumtif, namun untuk kepentingan produktif seperti membuka usaha. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.