KPK Tahan 3 Tersangka OTT Bengkulu di Rutan Kelas 1 Jakarta Timur  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Juru Bicara KPK Febri Diansyah bersama Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan saat konferensi pers mengenai OTT Dirjen Kementrian Perhubungan. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Juru Bicara KPK Febri Diansyah bersama Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan saat konferensi pers mengenai OTT Dirjen Kementrian Perhubungan. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan tiga tersangka dugaan suap terhadap hakim yang terjerat operasi tangkap tangan atau OTT di Bengkulu. Tiga tersangka tersebut adalah hakim tindak pidana korupsi Pengadilan Negeri Bengkulu, Dewi Suryana; panitera pengganti PN Bengkulu, Hendra Kurniawan; dan pihak yang diduga sebagai penyuap, Syuhadatul Islamy.

    "KPK menahan ketiga tersangka selama 20 hari untuk kepentingan penyidikan," kata juru bicara KPK, Febri Diansyah, saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat, 8 September 2017. Febri menyatakan tiga tersangka itu ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Jakarta Timur Cabang KPK C1.

    Baca juga: OTT Bengkulu, KPK Segel Ruangan Hakim S

    Suap diduga terkait dengan putusan perkara kasus dugaan tindak pidana korupsi kegiatan rutin tahun anggaran 2013 di Dinas Pendapatan, Pengelolaan, Keuangan, dan Aset (DPPKA) Kota Bengkulu.

    Sebelumnya, KPK menangkap enam orang dalam OTT dugaan suap terhadap hakim Pengadilan Tipikor di Pengadilan Negeri Bengkulu di daerah Bengkulu dan Bogor. Tiga orang ditetapkan sebagai tersangka.

    Akibat perkara itu, Mahkamah Agung (MA) menonaktifkan sementara Ketua PN Bengkulu Kaswanto.

    "MA telah menonaktifkan sementara Ketua PN Bengkulu selaku atasan langsung hakim tersebut dan panitera PN Bengkulu selaku atasan langsung dari panitera pengganti tersebut. Keduanya sementara dipekerjakan di Pengadilan Tinggi Bengkulu. Ini SK-nya sudah ada," kata Ketua Muda Pengawasan MA Sunarto saat konferensi pers terkait dengan OTT di Bengkulu di gedung KPK, Jakarta, Kamis, 7 September 2017 .

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.