Aksi Solidaritas Rohingya di Borobudur, Peserta Janji Tak Merusak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sorotan lampu menghiasi candi Borobudur saat perayaan Hari Raya Waisak di Magelang, Jawa Tengah, 11 Mei 2017. Detik-detik datangnya hari Raya Waisak, umat Budda dan wisatawan menempelkan kertas berisi doa atau cita-cita hidup yang diharapkan pada lampion kertas untuk diterbangkan ke langit. (Ulet Ifansasti/Getty Images)

    Sorotan lampu menghiasi candi Borobudur saat perayaan Hari Raya Waisak di Magelang, Jawa Tengah, 11 Mei 2017. Detik-detik datangnya hari Raya Waisak, umat Budda dan wisatawan menempelkan kertas berisi doa atau cita-cita hidup yang diharapkan pada lampion kertas untuk diterbangkan ke langit. (Ulet Ifansasti/Getty Images)

    TEMPO.CO, Jakarta - Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) menyatakan bakal ikut bergabung dalam aksi solidaritas Rohingya di kompleks Candi Borobudur, Magelang, pada Jumat, 8 September 2017. Mereka menjamin aksi damai itu tidak akan merusak bangunan cagar budaya tersebut.

    "Kami memang akan bergabung dengan aksi itu," kata Sekretaris LUIS, Endro Sudarsono, kepada Tempo, Senin, 4 September 2017. Anggota yang akan dibawa dalam aksi solidaritas Rohingya tersebut sekitar 25 orang.

    Baca juga: Mengapa Harus Hati-hati Sikapi Kasus Rohingya, Catatan Ansor..

    Menurut Endro, ada beberapa ormas lain di Solo yang juga akan mengikuti aksi itu. Hanya saja mereka berangkat secara terpisah. "Tidak seperti saat Aksi Bela Islam di mana semua berangkat dalam satu koordinasi," katanya.

    Dia menyebut bahwa krisis Rohingnya merupakan sebuah tindakan brutal di luar rasa kemanusiaan. "Masyarakat dunia harus ikut menghentikan kekerasan itu," kata Endro. Salah satunya dengan melakukan aksi guna menekan pemerintah Myanmar untuk menghentikan perbuatan itu.

    Menurut Endro, Borobudur dipilih sebagai lokasi aksi karena merupakan salah satu bangunan cagar budaya kelas dunia. "Dipilih sebagai lokasi untuk menarik perhatian dunia," katanya.

    Dia menjamin aksi itu tidak akan merusak bangunan candi maupun mengganggu penganut agama Buddha yang tinggal di sekitar Borobudur. "Penganut Buddha di Indonesia juga mengecam terjadinya tragedi di Rohingya itu," katanya.

    AHMAD RAFIQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.