Syarikat Islam Kecam Persekusi Terhadap Rohingya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Penjaga Perbatasan Bangladesh (BGB) mendorong kembali orang Rohingya yang mencoba masuk di perbatasan Bangladesh di Cox's Bazar, Bangladesh, 27 Agustus 2017. Dalam pertempuran ini, 80 pemberontak Rohingya dan 12 anggota pasukan keamanan tewas. REUTERS/Mohammad Ponir Hossain

    Anggota Penjaga Perbatasan Bangladesh (BGB) mendorong kembali orang Rohingya yang mencoba masuk di perbatasan Bangladesh di Cox's Bazar, Bangladesh, 27 Agustus 2017. Dalam pertempuran ini, 80 pemberontak Rohingya dan 12 anggota pasukan keamanan tewas. REUTERS/Mohammad Ponir Hossain

    TEMPO.CO, Jakarta - Pimpinan Pusat Syarikat Islam mengutuk keras persekusi negara Myanmar atas etnis Rohingya. Perbuatan tersebut dinilai telah melanggar komitmen internasional tentang perlindungan hak asasi manusia dan jaminan kehidupan yang damai dan berkeadilan bagi etnis Rohingya.

    Ketua Umum PP Syarikat Islam Hamdan Zoelva mengatakan tragedi Rohingya ini patut dianggap sebagai tragedi kemanusiaan yang amat layak disayangkan. "Sesungguhnya Myanmar telah memperlihatkan tiga ironi besar dalam kasus Rohingnya sekaligus," kata dia dalam keterangannya, Ahad 3 September 2017.

    Baca : Rohingya Angkat Senjata, Ribuan Warga Lari Dievakuasi

    Ironi pertama, yakni penghargaan internasional berupa hadiah Nobel Perdamaian terhadap perjuangan HAM tokoh oposisi yang kini menjadi pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi. "Nobel perdamaian itu adalah hal yang bertentangan dengan semangat politik pemerintah Myanmar yang melakukan persekusi terhadap etnis Rohingnya," kata Hamdan.

    Ironi kedua adalah komitmen internasional tentang pembangunan menyeluruh dan berkelanjutan yang berbeda secara diametral dengan sikap pemerintah Myanmar terhadap warga negaranya. "Penderitaan akibat persekusi di bawah simbol negara tersebut adalah ironi besar di tengah gencarnya gerakan internasional untuk mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs)," ujar Hamdan.

    Baca : Krisis Rohingya, Pimpinan Al Qaeda Serukan Perang Lawan Myanmar

    Yang terakhir, kata Hamdan, adalah ironi historis bahwa Myanmar adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tokohnya pernah menjadi Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. "Seharusnya ini menjadi modal historis dan politis bagi Myanmar untuk tampil paling depan menjadi pelopor perdamaian dan keamanan dunia," ujarnya.

    Tragedi Rohingya kembali pecah sejak 25 Agustus 2017 lalu. Sejak saat itu, hampir 45.000 warga Rohingya melarikan diri dari kampung halamannya menuju perbatasan Bangladesh. Tak kurang dari 98 orang tewas dalam bentrok yang melibatkan pemberontak Rohingya dan militer Myanmar.

    NINIS CHAIRUNNISA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.