Selasa, 13 November 2018

Tragedi Rohingya, Kaum Profesional Geruduk Kedutaan Myanmar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga Rohingya menunggu untuk memasuki tempat penampungan Kutupalang di Cox's Bazar, Bangladesh, 30 Agustus 2017. Di Myanmar, warga Rohingya tidak diakui, tak diberi status warga negara, dan dianggap sebagai imigran gelap. REUTERS/Mohammad Ponir Hossain

    Sejumlah warga Rohingya menunggu untuk memasuki tempat penampungan Kutupalang di Cox's Bazar, Bangladesh, 30 Agustus 2017. Di Myanmar, warga Rohingya tidak diakui, tak diberi status warga negara, dan dianggap sebagai imigran gelap. REUTERS/Mohammad Ponir Hossain

    TEMPO.CO, Jakarta - Kelompok masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Profesional bagi Kemanusiaan Rohingya menggelar unjuk rasa depan Kedutaan Besar Myanmar. Peserta aksi sempat bersitegang dengan pihak kepolisian karena berusaha menempelkan kertas berisi tuntutan aksi di dinding kedutaan besar.

    Salah satu peserta aksi telah menyampaikan bahwa aksi pada hari ini aksi damai. "Ini hanya merupakan aksi damai untuk kepedulian terhadap masyarakat Rohingya, jadi pihak keamanqn tidak perlu khawatir," kata Fahmi Idris, yang juga bekas menteri tenaga kerja dan menteri perindusrian di depan Kedutaan Besar Myanmar, Jakarta, Sabtu, 2 September 2017.

    Baca juga: Surat Terbuka Peraih Nobel Kritik Aung San Suu Kyi Soal Rohingya

    Pemerintah Myanmar disorot oleh dunia Internasional dalam beberapa waktu terakhir ini. Bencana kemanusiaan di wilayah barat negeri itu telah mengakibatkan pembunuhan terhadap sekitar 400 orang warga etnis Rohingya. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres telah memperingatkan pemerintah Myanmar bahwa kejadian tersebut merupakan bencana dan kekerasan terhadap kemanusiaan.

    Namun sekitar pukul 10.50 WIB, sejumlah peserta aksi yang dipimpin oleh Andi Sinulingga, politisi dari Partai Golkar, mendekat ke pintu Kedutaan Besar dan beradu mulut dengan pihak pengamanan dari kepolisian sektor Menteng. "Kami warga Indonesia protes terhadap bencana kemanusiaan yang telah terjadi di Myanmar", kata seorang peserta aksi lainnya.

    Baca juga: Muhammadiyah Minta Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi Dicabut

    Para peserta aksi berniat untuk menempelkan sejumlah kertas berisi tuntutan di dinding kedutaan. Namun segera dicegat oleh pihak kepolisian. "Silahkan aksi, tapi kalau ini sudah masuk kawasan negara lain (Myanmar), kami harus lakukan pengamanan," kata Kepala Kepolisian Sektor Menteng, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Ronald Purba. Ronald hanya mempersilahkan peserta untuk menginjak dan membakar kertas saja, bukan tidak ditempel di dinding Kedutaan.

    Baca juga: NU dan Muhammadiyah Desak PBB Hentikan Krisis Rohingya

    Peserta aksi sendiri baru membubarkan diri sekitar pukul 11.10 WIB. Dikabarkan bahwa para peserta akan melanjutkan aksinya di depan kantor Sekretariat ASEAN, Jakarta. "Tapi belum pasti, lihat kondisi nanti dulu," kata koordinator aksi, Ichsan Loulembah.

    FAJAR PEBRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?