Pemalsuan Kitab Kuning Pembohongan Publik

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemalsuan Kitab Kuning Pembohongan Publik

    Pemalsuan Kitab Kuning Pembohongan Publik

    INFO NASIONAL – Fenomena pemalsuan isi kitab dan penyelewengan teks pada kitab kuning atau yang disebut Tahrf Al-Kutub harus menjadi perhatian serius, karena berpotensi menjadi pembohongan publik yang berbahaya, dalam merusak akidah generasi muslim pada ajaran Islam. Demikian hasil diskusi dalam acara Ngobrol @Tempo yang berlangsung pada 16 Agustus 2017, di Jakarta.

    Di kalangan pesantren, istilah kitab kuning sudah melekat dalam keseharian, untuk menamai kitab yang berisi pembelajaran agama Islam. Ada juga yang menyebutnya kitab gundul karena aksara Arab yang dituliskan tidak memiliki harakat atau syakl (tanda baca).

    Peneliti dan Penulis Buku Tahriful Kutub, Marhadi Muhayar, mengatakan fenomena ini merupakan pendustaan ilmiah dan sangat berbahaya bagi fondasi kebenaran dan bisa membutakan generasi muslim akan ajaran agamanya.

    Kasus Tahrf Al-Kutub bukan masalah sederhana, melainkan kejahatan serius dan membahayakan. Apa yang tersisa dari kepercayaan umat Islam terhadap kitab-kitab peninggalan para ulama terdahulu, jika buku-buku terbitan yang beredar saat ini telah diacak-acak oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.

    “Hal ini harus menjadi perhatian serius dari para ulama, kyai, pengambil kebijakan, akademisi, dan masyarakat muslim yang peduli pada kelestarian kitab-kitab umat Islam,” ujarnya.

    Dalam kesempatan tersebut, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Ahmad Jayadi mengatakan, pola pemikiran kitab kuning yang diajarkan pesantren di Indonesia berbeda dengan kajian yang dilakukan di Mesir.

    Selain itu, kajian kitab kuning yang dikembangkan di pesantren lebih didominasi pola pemikiran ahli hadis, yang cenderung dalam memandang dan menyelesaikan persoalan dengan lebih memperhatikan pada teks dhohir, naskah yang kemudian dikenal dengan tradisi ngapsahi. Hal itu mempunyai banyak keunggulan.

    “Jadi kajian kitab kuning dengan versi ahli hadis itu bisa menjadi cara untuk mendapatkan dan menemukan keganjilan yang ada di dalam kitab kuning. Karena kitab kuning yang diajarkan itu rata-rata terbit sebelum tahrif (penyelewengan) ini muncul,” ujarnya.

    Karena itu, kata Ahmad, Kementerian Agama juga sudah meminta kepada para ulama untuk melakukan kajian. Setidaknya terdapat 65 kitab kuning yang sudah ditemukan ada tahrif di dalamnya.

    Di Indonesia setidaknya terdapat 150 nama kitab kuning yang biasa digunakan di pondok pesantren. Kebanyakan, kitab-kitab kuning tersebut dimiliki pihak keluarga sehingga untuk mengkajinya harus melalui pendekatan khusus, karena ada kekhawatiran kalau kitab tersebut dipinjamkan akan hilang.

    Di Timur Tengah sebagai daerah asalnya, kitab kuning disebut dengan Al-Kutub Al-Qadimah (buku-buku klasik) sebagai sandingan dan al-Kutub al-'asriyyah. Umumnya kitab-kitab kuning yang beredar di lingkungan pesantren meliputi berbagai bidang keilmuan, di antaranya ilmu alat—(gramatikal bahasa Arab) meliputi Nahwu, Sharaf, I’lal, dan Balaghah—lalu ilmu Tauhid (teologi atau ilmu kalam), ilmu Fiqih, Ilmu Al-Quran—yang meliputi tafsr dan ulumul quran—ilmu Hadist (Diryah dan Riwyah, ilmu Tasawuf, Tarikh, dan ilmu Mantiq.

    Ensiklopedi orang Eropa ke Jawa mengungkapkan, tahun 1600-an telah ditemukan Taqrb, yaitu kitab Fiqih yang dikarang Abu Suja dan telah diajarkan, di sejumlah pesantren di Jawa. Hal  serupa juga disebutkan dalam Serat Centini (dibuat pada awal Abad 19) mengenai Kitab Taqrb yang sampai kini masih menjadi mayoritas pembelajaran di pesantren pada tingkat dasar.(*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.