Tanggapi Klaim Jasriadi, Fadli Zon: Gerindra Tak Kenal Saracen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua DPR Fadli Zon menggelar tadarus puisi Ramadan dalam memperingati Hari Lahir Pancasila di Taman Ismail Marzuki, 1 Juni 2017. Tempo/Danang Firmanto

    Wakil Ketua DPR Fadli Zon menggelar tadarus puisi Ramadan dalam memperingati Hari Lahir Pancasila di Taman Ismail Marzuki, 1 Juni 2017. Tempo/Danang Firmanto

    TEMPO.COJakarta - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan pihaknya tak mengenal kelompok sindikat penebar konten kebencian, Saracen. Pernyataan Fadli Zon menanggapi pengakuan Jasriadi, ketua sindikat Saracen, yang menjadi pendukung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

    "Kami tidak pernah mengenal yang namanya Saracen itu dan kami juga tidak pernah meng-approve tindakan-tindakan hoax," kata Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 29 Agustus 2017.

    Baca: Blakblakan Bos Saracen Soal Dukungannya ke Prabowo

    Fadli mengaku Gerindra malah sering menjadi korban berita bohong di media sosial. "Seperti ada yang membuat Pak Prabowo seolah-olah berpakaian seperti Nazi," katanya. Ia kecewa beredarnya berita bohong tidak diproses kepolisian.

    Jasriadi ditangkap kepolisian pada 7 Agustus 2017. Polisi menangkap juga menangkap dua pelaku lain yaitu ketua bidang media informasi, Faizal Muhammad Tonong, dan koordinator grup Saracen di daerah, Sri Rahayu Ningsih.

    Jasriadi membeberkan awal terbentuknya komunitas Saracen. Ia menyebut pada saat pemilihan presiden 2014 banyak akun Facebook yang menghina Islam dan Pak Prabowo. "Kami simpatisan Pak Prabowo," katanya. Jasriadi pun mengaku membajak akun yang sudah kelewatan menyerang Islam dan Prabowo.

    Baca: Siapa Saja Pemesan Konten Hoax ke Saracen? 

    Meski begitu, Jasriadi mengaku tidak menjadi bagian dari tim sukses Prabowo pada pilpres 2014. "Bukan, saya hanya simpatisan. Boleh kan kalau mendukung? Itu hak saya mendukung siapa," katanya.

    Fadli pun meminta kepolisian mengusut kasus secara keseluruhan untuk mengantisipasi kemunculan kelompok serupa Saracen. "Harus secara keseluruhan, jangan secara parsial, tiba-tiba ada Saracen-Saracen lain, itu kampungan," ucapnya.

    ARKHELAUS W. | TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.