Soal Novel Baswedan, Ketika Jokowi Dibandingkan dengan SBY

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyidik KPK Novel Baswedan bercerita tentang rencana operasi besar matanya usai menjalani solat Dzuhur berjamaah di salah satu masjid Singapura, 15 Agustus 2017. TEMPO/Fransisco Rosarians

    Penyidik KPK Novel Baswedan bercerita tentang rencana operasi besar matanya usai menjalani solat Dzuhur berjamaah di salah satu masjid Singapura, 15 Agustus 2017. TEMPO/Fransisco Rosarians

    TEMPO.CO, Jakarta - - Sikap Presiden Joko Widodo yang hingga kini belum menemui keluarga penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan sempat dikritik. Jokowi bahkan dibandingkan dengan Presiden Keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono yang dianggap lebih cepat menanggapi kasus intimidasi terhadap pegiat anti korupsi.

    Perbandingan itu disampaikan anggota LBH Jakarta Al Ghifari Aqsa yang tergabung dalam tim advokasi Novel. " Pada 2010, waktu itu mendampingi Tama yang dibacok. Tak sampai sehari SBY langsung datang ke rumah sakit dan memerintahkan Kapolda, Kapolri untuk diusut tuntas," ujar Al Ghifari, Senin, 28 Agustus 2017.

    BACA: Kejanggalan-kejanggalan Penyidikan Kasus Novel Baswedan

    Yang dimaksud Al Ghifari adalah penyerangan terhadap Aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW), Tama S. Langkun. Teror itu diduga terkait dengan laporannya ke KPK soal rekening mencurigakan sejumlah perwira polisi. "Kalau mau dibandingkan Jokowi dan SBY yang lalu, ini jauh beda, walaupun kasus Tama juga tidak terungkap sampai sekarang," ujarnya.

    Menurut dia, Jokowi seharusnya sudah menemui Novel atau pihak keluarga tak lama setelah insiden penyiraman air keras terjadi pada April lalu.

    Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengaku sempat berkomunikasi dengan Menteri Sekretaris Negara Pratikno, terkait permintaan keluarga Novel untuk bertemu Jokowi. Pratikno, kata dia, menjanjikan pertemuan dengan Jokowi.

    BACA: Lelaki Gempal di CCTV Rumah Novel Baswedan itu...

    "Namun kemudian pihak istana berharap ada surat resmi yang diajukan, tidak kemudian hanya dalam bentuk penyampaian secara lisan," ujar Dahnil yang juga tergabung dalam tim advokasi Novel.

    Keluarga pun mengirim surat permintaan bertemu yang berisi tulisan tangan Rina, istri Novel. Surat itu dikirimkan ke Istana Kepresidenan pada 21 Agustus lalu.

    "Terakhir saya meminta kepada Pak Pratikno agar penjadwalan pertemuan dengan presiden bisa dilakukan setelah tanggal 25 atau sebelum Idul Adha, namun sampai dengan hari ini kami belum dengar kabar lagi," tutur Dahnil.

    Rina, yang sempat menunjukkan foto Novel Baswedan pasca operasi besar tahap pertama pun sempat menyampaikan harapan untuk segera bertemu Jokowi.

    "Harapannya agar segera ada perhatian presiden membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta, agar bisa melihat fakta-fakta penyiraman air keras ini secara obyektif," kata Rina dalam jumpa pers yang sama.

    YOHANES PASKALIS PAE DALE




     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.