Cerita Seorang PNS di Bantul yang Akun Medsosnya Dibajak Saracen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tiga tersangka dihadirkan dalam gelar perkara penebar ujaran kebencian, di Mabes Polri, Jakarta, 23 Agustus 2017. Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim berhasil mengungkap sindikat kelompok Saracen. TEMPO/Imam Sukamto

    Tiga tersangka dihadirkan dalam gelar perkara penebar ujaran kebencian, di Mabes Polri, Jakarta, 23 Agustus 2017. Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim berhasil mengungkap sindikat kelompok Saracen. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi korban berita bohong yang dihubungkan dengan kelompok Saracen. Bahkan informasi di beberapa media sosial dan media nasional menyebutkan PNS bernama Dwi Ratna Suprihastuti itu, 52 tahun, ditangkap polisi.

    Namun kabar itu ternyata juga bohong alias hoax. Dia memang didatangi polisi, tapi hanya untuk klarifikasi. Sebab, di akun Facebook miliknya, ia menjadi salah satu anggota Saracen, situs penyebar konten kebencian dan hoax. Akun Facebook-nya dibobol.

    Baca:

    Pendiri Saracen Mengaku Hanya Bajak 150 Akun
    Soal Saracen News, Hendardi Sebut Ada Kelompok yang Mendesain

    "Itu tidak benar. Hoax," kata kepala Satuan Pembinaan Masyarakat Kepolisian Resor Bantul, Yogyakarta, Ajun Komisaris Leonisya Sagita, Senin, 28 Agustus 2017.

    Leonisya menegaskan justru pegawai negeri ini menjadi korban. Sebab, akun Facebook PNS itu dibobol orang lain. Pegawai Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil tersebut sudah memblokir akunnya.

    Setelah polisi menelisik, ternyata Ratna tidak tahu-menahu soal Saracen. Karena dibobol, dia lagi mengoperasikan akunnya. Ratna merupakan warga Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul.

    Soal data Kartu Tanda Penduduk yang tersebar, ternyata Ratna pernah berkomunikasi dengan teman di media sosial dan diiming-imingi bantuan dengan menyertakan KTP.

    Simak pula:

    Mengapa Hoax dan Saracen Cepat Menyebar di Indonesia

    Dari penelusuran  polisi, setelah didatangi pada 26 Agustus lalu, pegawai negeri itu menggunakan akun Nana121287 yang diduga menjadi anggota dari akun mustofanahra.

    Àwalnya, pada Januari 2017, dia pernah dimintai foto KTP sebagai syarat untuk menerima bantuan. Namun, setelah dikonfirmasi lewat akun Mustofa, ternyata akun tersebut sudah dibobol atau di-hack dengan akun yang sama.

    Lalu akun miliknya dia blokir. Tiba-tiba tersebar kabar bahwa dia adalah anggota Saracen.

    Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bantul Ajun Komisaris Anggaito Hadi Prabowo juga menegaskan tidak ada penangkapan terhadap yang bersangkutan. Namun polisi sudah meminta keterangannya. "Akunnya dibajak, dia korban juga," katanya.

    MUH SYAIFULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.