Kasus Saracen dan Serangan ke Jokowi Menjelang Pemilu 2019

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kabag Mitra Biro Penmas Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Pol Awi Setiyono (dua dari kanan), dan Kasubdit 1 Dit Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Pol Irwan Anwar (kanan) mengumumkan penangkapan tiga orang anggota Kelompok Saracen, sindikat penyedia jasa koten kebencian di Gedung Divisi Humas Polri, Jakarta, 23 Agustus 2017. Tempo/Fajar Pebrianto

    Kabag Mitra Biro Penmas Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Pol Awi Setiyono (dua dari kanan), dan Kasubdit 1 Dit Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Pol Irwan Anwar (kanan) mengumumkan penangkapan tiga orang anggota Kelompok Saracen, sindikat penyedia jasa koten kebencian di Gedung Divisi Humas Polri, Jakarta, 23 Agustus 2017. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Andreas Pareira menyatakan Saracen merupakan penyebar berita bohong. Jaringan Saracen, kata Andreas, kerap menyebarkan hasutan bahwa Jokowi merupakan pendukung Partai Komunis Indonesia, mengutamakan etnis Cina, mendahulukan kepentingan asing, maupun isu yang menyinggung suku, ras, agama dan antar golongan (SARA). “Ini jelas pencemaran nama baik, dan bermotif politik,” katanya.

    Andreas menyampaikan ini untuk menanggapi terbongkarnya jaringan Saracen yang oleh polisi dituding kerap menyebar hoax dan ujaran kebencian. Polisi menangkap koordinator grupnya, Faizal Muhammad Tonong pada 21 Juli lalu. Selain Faizal, polisi juga menangkap: Ketua Saracen Jasriadi; Koordinator grup untuk wilayah Jawa Barat Sri Rahayu Ningsih, dan; Ropi Yastman, admin grup Facebook “Keranda Jokowi-Ahok, yang terafiliasi dengan Saracen.

    BACA: Cerita Bagaimana Saracen Berdagang Ujaran Kebencian

    Andreas curiga, serangan hoax kepada pemerintah dan Jokowi masif karena ada aktor yang bermain di belakangnya. Sayangnya, dia tidak mau menjelaskan siapa dalang yang dia maksud. Dia meminta kepolisian mengusut motif, maupun aktor yang kerap kali mengeluarkan hasutan untuk membunuh karakter Jokowi.

    Politikus PDI-Perjuangan lainnya Charles Honoris menambahkan, selain Saracen ada jutaan akun yang disiapkan untuk menyerang lawan politik menjelang Pemilihan Kepala Daerah serentak 2018, serta Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden 2019. “Ini benih aksi intoleran dan radikalisme,” katanya.

    BACA: Kekhawatiran Istana Jika Grup Saracen Tidak Diberantas ..

    Pernyataan senada dilontarkan politikus partai pemerintah lainnya. Ketua Partai Golkar Zainuddin Amali meyakini pemesan konten kebencian Saracen bermotif politik. “Ini bukan persaingan antar perusahaan. Pasti ada yang minta tolong, menyuruh dan pemodal,” katanya.

    Sedangkan salah satu pengagas aksi 212 Ansufri Sambo menuturkan selama ini berita yang diproduksi Saracen bukan hoax. “Itu kritik dari kebijakan Jokowi, masak ditangkap,” ujarnya. Tentang dugaan sejumlah orang yang terkait gerakan demo 2 Desember 2016 lalu terlibat Saracen, Ansufri menyatakan, “Kami belum tahu persis aksinya. Tapi mereka orang baik.”

    BACA: Kasus Saracen, Anggota DPR Zainudin Amali Duga Persaingan Politik

    Kepala Subdirektorat 1 Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Komisaris Besar Irwan Anwar menuturkan polisi sedang mengusut pemesan konten kebencian kepada Saracen,. Polisi juga mengusut informasi dugaan sejumlah  tokoh yang memesan konten itu. “Sedang kami dalami itu,” kata dia.

    NINIS C | HUSSEIN DONGORAN | DANANG FIRMANTO | KARTIKA ANGGRAENI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.