3 Makna Makuta Sinatria yang Dikenakan Jokowi di Karnaval Bandung

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo menyapa warga dari atas mobil Pancasial di Karnaval Kemerdekaan Ke 72 dengan tema Pesona Parahyangan di Bandung, Jawa Barat, 26 Agustus 2017. Karnaval ini menampilkan padanan budaya tradisi dan budaya kontemporer yang diikuti 16 masyarakat adat Jawa Barat dan helaran Jember Fashion Carnival, Solo Batik Carnival, dan Tomohon Intenational Flower Festival. TEMPO/Prima Mulia

    Presiden Joko Widodo menyapa warga dari atas mobil Pancasial di Karnaval Kemerdekaan Ke 72 dengan tema Pesona Parahyangan di Bandung, Jawa Barat, 26 Agustus 2017. Karnaval ini menampilkan padanan budaya tradisi dan budaya kontemporer yang diikuti 16 masyarakat adat Jawa Barat dan helaran Jember Fashion Carnival, Solo Batik Carnival, dan Tomohon Intenational Flower Festival. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bandung - Presiden Joko Widodo memimpin Karnaval Kemerdekaan Pesona Parahyangan, Sabtu, 26 Agustus 2017 di Bandung, Jawa Barat. Di acara yang dimulai dari Gedung Sate Bandung itu, Jokowi mengenakan beskap berwarna ungu dan iket kepala Makuta Sinatria.

    Makuta adalah mahkota, benda penutup kepala yang dipakai di atas kepala. "Sementara Sinatria adalah kesatria, suatu karakter, sifat, sikap yang berani, adil, tegas dan jujur," kata Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, dalam siaran persnya, Sabtu, 26 Agustus 2017.

    Dalam budaya Sunda, kata Bey, pemakaian iket kepala menunjukkan pemimpin, seseorang yang sedang menjalankan tugas mulia, dan sedang mencari peningkatan kebaikan diri. "Dengan memakai rupa iket sunda ‘makuta sinatria’, menunjukkan bahwa pemakai iket ini memberikan wejangan bahwa dirinya telah melaksanakan Tilu Eusi Diri (tiga sikap diri)," kata Bey.

    Pertama, mencerminkan sikap berani dan adil dalam membuat pilihan keputusan demi menegakkan keadilan dan kebenaran sejati. Kedua, adalah sikap panceg yang berketetapan hati/tegas, yakni selalu menggunakan suara hati nurani dalam mengemban tugas lahiriah maupun bathiniah.

    Sementara ketiga adalah sikap silih wangi atau saling mewangikan/saling memberikan kebaikan; melindungi mengayomi dengan sikap welas asih (kasih sayang) untuk pencapaian kebaikan dan kesejahteraan bersama. "Yakni menjalankan kebaikan untuk sesama, keluarga, masyarakat, negara juga pribadi diri sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa," kata Bey.

    Warga Kota Bandung tumpah ruah menyaksikan parade ini. Mereka memadati pinggir Jalan Diponegoro yang menjadi lokasi dimulainya Karnaval Kemerdekaan Pesona Parahyangan ini.

    Beberapa warga bahkan rela berpanas-panasan di tepi jalan. Sambil mengarahkan kamera di ponsel pintarnya, beberapa warga berebut moment untuk bisa hanya sekedar memfoto arak-arakan dalam karnaval itu.

    Adapula beberapa warga yang memilih untuk melakukan swafoto. Salah satu warga, Dedi, 34 tahun, mengatakan ingin menyaksikan perhelatan karnaval itu lantaran acara karnaval kemerdekaan tidak setiap tahun dilaksanakan di Bandung.

    "Ya ini momen bersejarah, makanya saya bawa anak dan istri untuk menyaksikan langsung acara karnaval ini," ujar Dedi kepada Tempo, di halaman depan Gedung Sate.

    AMIRULLAH SUHADA|AMINUDDIN A.S.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.