MPR Berkepentingan Membangun Semangat Pancasila

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) ingin empat pilar benar-benar tertanam dan dimiliki masyarakat Indonesia.

    Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) ingin empat pilar benar-benar tertanam dan dimiliki masyarakat Indonesia.

    INFO MPR - Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) berencana membangun semangat ideologi Pancasila di dalam setiap jiwa bangsa Indonesia. Hal itu karena Pancasila sebagai perekat yang bisa mempersatukan Indonesia yang terdiri atas beragam suku, ras, bahasa daerah, kebudayaan, juga agama.

    Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua MPR Mahyudin saat membuka acara Sosialisasi Empat Pilar MPR bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Balikpapan (STITBA) di aula STITBA, Jumat, 25 Agustus 2017.

    Mahyudin mengingatkan kepada para mahasiswa untuk memahami ideologi Pancasila. Dia menegaskan Pancasila sebagai ideologi negara sudah final. Menurut Mahyudin, tanpa Pancasila, Indonesia tidak ada. "Jadi siapa saja yang melanggar ideologi itu berarti juga melanggar Pancasila," ujarnya.  

    Karena itu, dia mengajak para mahasiswa STITBA untuk tidak ikut-ikutan melakukan gerakan-gerakan yang melawan ideologi Pancasila seperti mengibarkan bendera dengan lambang yang "aneh-aneh" selain bendera Merah Putih.

    Apalagi, kata Mahyudin, TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966 belum dicabut, yakni penyebaran ideologi komunis masih dilarang di Indonesia. "Jadi, kalau ada pihak-pihak yang ingin menanamkan ideologi lain di luar Pancasila, mereka akan langsung dibubarkan," ucapnya.

    Jadi itulah sebabnya kenapa empat pilar MPR itu perlu terus disosialisasikan di masyarakat. "Kita ingin membumikan Pancasila. Kita ingin empat pilar itu benar-benar tertanam dan dimiliki masyarakat Indonesia. Jadi, kalau ada yang mencoba merongrong Pancasila sebagai ideologi negara, rakyat Indonesialah yang terlebih dahulu menghadapinya, bukan polisi," katanya.

    Terlebih, menurut Mahyudin, sosial media saat ini banyak yang menyebarkan hoax, fitnah, juga kebencian. Dia meminta para mahasiswa untuk tidak ikut-ikutan ke arah itu. Bangsa Indonesia tengah menghadapi lima tantangan yang belum selesai hingga kini. Kelima tantangan itu adalah munculnya pemahaman keliru terhadap agama, fanatisme kedaerahan, kurangnya pemahaman mengenai kebinekaan atau kemajemukan, kurangnya keteladanan dari para pemimpin bangsa, juga kurangnya pemahaman terhadap sejarah bangsa.

    Karena itu, Mahyudin berharap para mahasiswa STITBA yang merupakan calon-calon guru agama perlu diberikan pemahaman Pancasila agar nantinya menularkan ke murid-muridnya.

    Tapi, dari kelima tantangan itu, lanjut Mahyudin, sebenarnya ada persoalan pokok lainnya yang juga perlu diselesaikan, yaitu soal korupsi, terorisme, radilkalisme, serta narkoba.

    Menurut dia, masalah korupsi di Indonesia sudah terjadi dari tingkat paling atas sampai paling bawah bahkan dana desa pun dikorupsi. "Jangan ditanya lagi, dari menteri, DPR, dan pimpinan lembaga. Saya kadang malu dengan bangsa saya," ucapnya.

    Dia juga menyampaikan Indonesia mengalami darurat terorisme dan radikalisme akibat lemahnya penghayatan serta pemahaman terhadap agama dengan baik. "Orang Indonesia itu mudah kagetan, mudah kagum. Kadang kita kalau lihat orang asing itu suka menganggap lebih hebat dari kita. Ini yang membuat kita gampang dibodoh-bodohi," tuturnya.

    Mahyudin menyinggung mengenai maraknya kasus-kasus narkoba belakangan ini. Karena itu, dia meminta kepada para mahasiswa untuk menjauhkan diri dari pengaruh-pengaruh narkoba.

    "Karena itu, kita perlu berusaha bangkit menjadi negara yang mandiri sampai hari ini. Indonesia dikenal dengan sumber daya alamnya yang kaya raya dengan iklim yang baik, tapi masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan. Masih terjadi disparitas pembangunan antara Pulau Jawa dan luar Jawa," katanya.

    Mahyudin menjelaskan, Sosialisasi Empat Pilar MPR sangat penting dilakukan kepada seluruh lapisan masyarakat. "Setiap warga Indonesia wajib memahami dan mengamankan ideologi negaranya. Jadi tujuan kita tak lain bagaimana bangsa Indonesia bersatu. Karena tanpa persatuan, tidak mungkin ada bangsa ini. Bangsa ini lahir dari sebuah perkumpulan. Indonesia memiliki ribuan suku yang alhamdulillah sampai hari ini tidak ada masalah," ujarnya. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.