Kemlu Klarifikasi Dugaan Penganiayaan TKW di Arab Saudi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan calon TKW ilegal, yang hendak berangkat ke Arab Saudi, diamankan BNP2TKI di Bandara Soekarno-Hatta. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Puluhan calon TKW ilegal, yang hendak berangkat ke Arab Saudi, diamankan BNP2TKI di Bandara Soekarno-Hatta. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Luar Negeri sempat mendalami dugaan penganiayaan terhadap tenaga kerja wanita (TKW) asal Sukabumi, Nenih Rusmiyati, yang dilakukan majikannya di Kota Thaif, Arab Saudi. Bahkan disinyalir Nenih tidak menerima gaji.

    Kabar itu berawal dari viralnya foto Nenih yang tampak sedang menahan sakit dengan bagian wajah yang berdarah.

    Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal mengatakan, pihaknya menelusuri Nenih melalui Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Jeddah.

    “Karena tidak ada nomor kontak dan identitas memadai untuk melakukan penelusuran, KJRI Jeddah menugaskan staf untuk berkomunikasi dengan simpul WNI, serta kepolisian Thaif,” katanya dalam keterangan tertulis, Kamis, 24 Agustus 2017.

    Pihak KJRI Jeddah pun menemukan Nenih, kemudian meminta bantuan polisi untuk memeriksa majikannya. “Menindaklanjuti laporan KJRI, pada 17 dan 21 Agustus, kepolisian telah memanggil NR (Nenih) dan majikannya. Pada pemanggilan kedua, staf KJRI ikut hadir,” ucapnya.

    Saat itu ditemukan luka pada mulut Nenih, yang fotonya sempat viral, bukan disebabkan oleh penyiksaan. Luka itu muncul saat Nenih jatuh dan terbentur ke lantai ketika membersihkan tangga rumah orang tua majikannya.

    “Itu sekitar enam bulan lalu. Foto tersebut diambil rekan NR (yang adalah) warga negara Mesir dan mengirimkan foto tersebut kepada anaknya di Indonesia atas permintaan NR sendiri,” ujarnya.

    Pihak KJRI pun menemukan fakta Nenih tak bekerja di rumah majikannya sejak tiba di Arab Saudi pada 2008. Dia bekerja di rumah orang tua majikannya, Muhammad Siraj Sulaiman. “Selama bekerja, NR tidak pernah diberi hak cuti dan selalu ditunda kepulangannya ke Indonesia,” katanya.

    Iqbal menambahkan KJRI pun meminta bantuan lewat kepolisian Thaif agar majikan Nenih segera memenuhi hak-hak pekerjanya. Hal itu termasuk menguruskan izin meninggalkan negara dari imigrasi atau exit permit, juga memulangkan TKW itu ke Tanah Air. Pihak majikan Nenih diketahui sudah menyanggupi tuntutan tersebut.

    “Sambil menunggu kepulangan, KJRI meminta NR (Nenih) dapat dipindahkan dari majikan ke shelter KJRI,” ujarnya.

    YOHANES PASKALIS PAE DALE


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.