Sabtu, 24 Februari 2018

Yusman Divonis Hukuman Mati Saat Anak-anak, Menkumham Merespons

Oleh :

Tempo.co

Kamis, 24 Agustus 2017 07:38 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Yusman Divonis Hukuman Mati Saat Anak-anak, Menkumham Merespons

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly usai mengunjungi salah satu pasien korban bom bunuh diri di Kampung Melayu, yang dirawat di Rumah Sakit Premier, Jakarta Timur, 28 Mei 2017. Tempo/Egi Adyatama

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly berharap peradilan bisa memperbaiki diri dari kasus yang terjadi pada Yusman Telaumbanua. Selain itu, menurut dia, proses penyidikan oleh kepolisian harus memenuhi asas hukum, seperti tidak melakukan tindak kekerasan. "Kami berharap jangan lagi kejadian," kata dia di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 23 Agustus 2017.

    Menkumham Yasonna Laoly percaya kalau lembaga seperti Mahkamah Agung juga akan melakukan evaluasi tentang proses peradilan yang sudah berjalan. Yasonna ingin mekanisme peradilan dan pemeriksaan bisa berjalan sesuai dengan aturan.

    Baca juga:

    Revisi Aturan Remisi, Menteri Yasonna Bantah Prokoruptor

    Seperti diberitakan, terpidana kasus pembunuhan, Yusman Telaumbanua, dijatuhi vonis hukuman mati oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Gunungsitoli, Nias pada 2013. Namun seiring berjalannya waktu Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menemukan novum (bukti baru). Yusman, saat proses pemeriksaan dilakukan masih menyandang status sebagai anak-anak.

    Baca pula:

    Pemberian Remisi Narapidana Hemat Anggaran Rp 102 Miliar

    Bukti baru itulah yang akhirnya membebaskan Yusman dari hukuman mati. KontraS pun mendesak pemerintah untuk mengevaluasi secara menyeluruh terhadap penerapan hukuman mati di Indonesia.

    Lebih lanjut, Yasonna Laoly menyatakan tidak ada yang sempurna dengan sistem peradilan di Indonesia. Menanggapi hukuman mati, ia menilai selalu ada ruang untuk mendapatkan keringanan hukuman. Beberapa diantaranya ialah dengan mengajukan peninjauan kembali atau grasi. Namun yang terpenting, ucapnya, proses hukum harus berjalan transparan dan peradilan terbuka dengan bukti-bukti baru.

    ADITYA BUDIMAN


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Ucapan Pedas Duterte, Memaki Barack Obama dan Dukung Perkosaan

    Presiden Filipina Rodrigo Duterte sering melontarkan ucapan kontroversial yang pedas, seperti memaki Barack Obama dan mengancam pemberontak wanita.