Jusuf Kalla Sedih Lihat Konflik di Dunia Islam

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla memberikan keynote speech dalam World Ocean Summit 2017 di Sofitel, Nusa Dua, 23 Februari 2017. Tempo/Angelina Anjar Sawitri

    Wakil Presiden Jusuf Kalla memberikan keynote speech dalam World Ocean Summit 2017 di Sofitel, Nusa Dua, 23 Februari 2017. Tempo/Angelina Anjar Sawitri

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengutarakan kesedihannya atas situasi dunia Islam saat ini. Situasi itu diwarnai dengan konflik dan perpecahan yang terjadi di antara negara-negara Islam.

    "Semua ini memberikan tetesan kesedihan. Kita semua lihat dunia Islam seperti ini, saling membunuh, saling memberikan konflik satu sama lain," kata Kalla saat membuka simposium internasional pendidikan Islam di Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Rawamangun, Rabu, 23 Agustus 2017.

    Padahal, kata Kalla, Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Menjadi rahmat bagi alam tentu tidak dilakukan dengan berperang atau membunuh satu sama lain. Dia menyatakan kondisi berbeda saat ini bukan berarti ajaran agama yang salah, namun perilaku pemeluk agama yang salah.

    Dalam beberapa kesempatan pidato di acara yang berbeda, Kalla memang kerap menyatakan kerisauannya pada kondisi dunia Islam. Dia mencontohkan konflik yang terjadi di Irak, Suriah, Afghanistan, Libia, dan negara-negara lain.

    Konflik berkepanjangan tersebut akhirnya melahirkan malapetaka kemanusiaan, di mana ribuan hingga jutaan orang harus hidup di pengungsian. Sebagian lagi lari ke negara lain mencari perlindungan.

    Kalla mengatakan kondisi tersebut sangat ironis bila dibandingkan dengan keadaan di masa Nabi Muhammad SAW. Di masa Nabi, hijrah dilakukan dari Mekkah ke Madinah, namun saat ini, orang-orang Islam hijrah bukan ke negara-negara Islam, tapi ke negara-negara Barat. "Sekarang ini hijrah dari Suriah ke Eropa, hijrah dari Irak ke Eropa," kata Kalla.

    Karena itulah, kata Jusuf Kalla, bangsa Indonesia bersyukur berada di negara yang penuh toleransi, dan saling menghormati satu sama lain. Kondisi tersebut harus tetap dijaga dan dipertahankan di tengah kondisi bangsa yang beragam.

    AMIRULLAH SUHADA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.