Perahu Berisi 9 Orang Tenggelam Dihantam Ombak Sungai Barito

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi. gcaptain.com

    Ilustrasi. gcaptain.com

    TEMPO.CO, Banjarmasin - Barisan Pemadam Kebakaran Bintang Muda Mandastana dan relawan BPBD Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, melaporkan ada satu unit perahu klotok tenggelam di perairan Sungai Barito, Kabupaten Barito Kuala.

    Ketua BPK Bintang Muda Mandastana dan relawan BPBD Barito Kuala, Prabu Seno, mengatakan peristiwa ini sekira pukul 20.00 Wita di daerah log pon PT TSMJ, dekat Jembatan Barito, Kabupaten Barito Kuala, Senin, 21 Agustus 2017.

    Baca juga:
    Kapal Rombongan Pengantin Tenggelam di Pangkep, 6 Tewas

    "Klotok mengangkut sembilan orang. Tim gabungan emergency sudah menemukan enam penumpang, dan tiga orang masih dalam pencarian," kata Prabu Seno ketika menghubungi Tempo, sesaat setelah peristiwa itu. Dugaan sementara, klotok tenggelam akibat dihantam ombak perairan Sungai Barito.

    Dari enam penumpang selamat itu, empat orang ditemukan dalam kondisi sadar dan dua orang lemas. Nama korban  selamat terdiri atas Rusi'in, Robianto, Vemi, Supriadi, Edy, dan satu belum diketui namanya. Sementara tiga nama korban yang masih hilang: Johan, Yanto, dan Munir.

    Baca pula:

    Tenggelam di Ciliwung, Jasad Catherine Hanyut 15 Kilometer

    "Korban laka air merupakan karyawan perusahaan docking. Korban laka air masih satu keluarga," kata Prabu Seno. Mereka kebetulan baru pulang setelah menggarap docking milik PT Barito Sevian.

    Di tengah temaram lampu, menurut Seno, tim Unit Patroli Ujung Panti, Kepolisian Perairan Polres Barito Kuala, dan bantuan masyarakat terus menyisir perairan sekitar tempat kejadian perkara. Jika ditemukan korban tenggelam segera dibawa ke Puskesmas Handil Bakti, Kecamatan Alalak untuk mendapat tindakan medis.

    DIANANTA P. SUMEDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.