Di Kongres Diaspora, Menteri Luhut Cerita Kesederhanaan Jokowi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan usai mengisi pidato pembukaan World Ocean day di General Assembly Hall, PBB, New York. TEMPO/Wahyu Muryadi

    Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan usai mengisi pidato pembukaan World Ocean day di General Assembly Hall, PBB, New York. TEMPO/Wahyu Muryadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan banyak bercerita mengenai kepribadian Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam Kongres Diaspora Indonesia IV Global Summit di Grand Ballroom Hotel J.S. Luwansa, Jakarta, Senin, 21 Agustus 2017.

    Luhut mengatakan telah mengenal Jokowi selama 11 tahun, sebelum dia menjadi Presiden Indonesia ke-7. "Jokowi merupakan sosok yang sederhana," kata Luhut, yang menjadi pembicara kunci di kongres tersebut.

    Baca: Jokowi Tak Tersinggung Didoakan Gemuk oleh Tifatul Sembiring

    Ia juga bercerita Jokowi pernah memberitahunya untuk sembahyang. Saat itu, kata dia, Jokowi datang ke rumah Luhut menjelang Magrib. Begitu Adzan Magrib, Jokowi langsung mencari sajadah, wudhu dan langsung salat. "Saya berteman 11 tahun, sejak saya tidak tahu sembayang (beribadah)," ucapnya. 

    Selain itu, Luhut menambahkan, kalau pergi ke daerah, Jokowi sering menunda makan siangnya pada pukul 13.00. Jokowi lebih sering mengundurnya sampai pukul 15.00. "Padahal, saya sudah ke mana-mana itu," ujarnya.

    Luhut menambahkan Presiden Jokowi juga tidak pernah memilih-milih tempat untuk makan dan salat. Bahkan, Presiden bisa berhenti di mana saja, tempat yang dia mau. "Kalau sudah datang waktu salat, Presiden berhenti, dan kalau makan, makan saja di situ. Tidak ada orang, tidak ada pengamanan," ucapnya. "Itulah kesederhanaan Presiden."

    Dalam hal kepemimpinan, Luhut melanjutkan, Jokowi menginginkan pemerataan. Di era Jokowi, pembangunan dilakukan di semua wilayah. Adapun dana pembangunan tersebut berasal dari efisiensi dan langkah pemerintah mengurangi subsidi yang tidak perlu.

    "Subsidi diahlihkan ke pembangunan. Sekarang sudah terjadi perubahan, bahkan orang bisa masuk untuk berinvestasi," ujarnya.

    Luhut menambahkan Presiden Jokowi sekarang prihatin atas impor garam yang sudah terjadi bertahun-tahun. Menurut dia, hal itu terjadi karena ada instansi terkait tidak becus mengurus sistemnya. "Ini terjadi karena masalah ditangani tidak holistik. Sekarang instansi terkait harus mencari solusi, dan menyelesaikannya secara holistik," ucapnya.

    IMAM HAMDI


     

     

    Lihat Juga