Cerita Rumah Nomor 623 dan Kesaksian Tetangga Johannes Marliem

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Johannes Marliem. Johannesmarliem.com

    Johannes Marliem. Johannesmarliem.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggandeng Federal Bureau of Investigation (FBI) Amerika Serikat menelusuri asal mula aset dan kekayaan Johannes Marliem.

    Rumah mewah pria 32 tahun itu digeledah penyidik FBI dua hari sebelum Marliem disebut-sebut menyandera keluarganya dan bunuh diri di rumahnya di kawasan elit North Edinburgh Avenue Nomor 623, Los Angeles, Amerika Serikat.

    Lokasi rumah Direktur Utama Biomorf Lone LLC yang membawahkan PT Biomorf Lone Indonesia itu bertetangga dengan Melrose Avenue yang berjejer restoran-restoran mewah dan butik ternama.

    Baca : Bukti Penggeledahan Rumah Johannes Marliem Disegel

    Kontributor Tempo di Los Angeles, James Mills, menelusuri kawasan mewah itu pekan lalu setelah Marliem dikabarkan tewas bunuh diri di rumah nomor 623 itu.

    Dalam sebuah situs real estate lokal, rumah Marliem dibangun 2015 lalu dengan empat kamar tidur dan lima kamar mandi. Luasnya mencapai 400 meter persegi dengan harga sewa per bulan, menurut situs yang sama, mencapai sekitar US$ 13.500 per bulan atau sekitar Rp 180 juta.

    Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif mengatakan lain.

    Menurut informasi yang diperoleh KPK, rumah itu disewa Marliem seharga US$ 38 juta atau sekitar Rp 507 miliar. “Salah satu yang tinggal di kawasan itu Mantan Direktur International Monetary Fund,” kata Laode, Ahad 20 Agustus 2017.

    Simak : KPK Sebut FBI Tertarik Selidiki Kekayaan Johannes Marliem

    Tetangga Marliem di Edinburgh Avenue tak yakin pria itu bunuh diri. Soalnya, tak ada tembakan pistol pada pukul 02.00, 10 Agustus lalu –waktu kematian Marliem menurut Kepolisian setempat.

    “Jalanan cukup sepi sehingga bunyi tembakan akan terdengar,” kata Bob Lepucki, yang tinggal dua rumah dari rumah Nomor 623 itu.

    Lepucki juga tidak melihat anak dan istri Marliem keluar dari rumah ketika negosiasi berhasil sekitar pukul 20.00. Setelah situasi dikendalikan sekitar pukul 03.00 dini hari, menurut Lepucki, Kepolisian dan FBI telah meninggalkan lokasi.

    Baca juga : Penyebab Johannes Marliem Tetap WNA Meski Punya Paspor Indonesia

    Hal ini, menurutnya, cukup aneh karena kejadian penyanderaan tersebut cukup besar. “Saya juga tidak melihat ada jenazah yang dikeluarkan dari rumah,” kata dia.

    Johannes Marliem menjadi sorotan karena menjadi saksi kunci dalam pengusutan kasus megakorupsi kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) di Indonesia. Sejak proyek direncakanan pada 2010, ia terlibat rapat-rapat dan pertemuan perencanaan maupun pelaksanaan proyek yang akhirnya merugikan negara Rp 2,3 triliun tersebut.

    INDRI MAULIDAR | DA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.