Sabtu, 24 Februari 2018

Cerita Diplomasi Meja Makan Jokowi dan Mantan Presiden di Istana

Oleh :

Tempo.co

Jumat, 18 Agustus 2017 20:35 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Cerita Diplomasi Meja Makan Jokowi dan Mantan Presiden di Istana

    Presiden Jokowi (ketiga kiri) bersama mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kedua kiri) beserta istri Ani Yudhoyono, mantan Presiden BJ Habibie, mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, Ketua MPR Zulkifli Hasan (kanan) beserta istri menghadiri upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Jakarta, 17 Agustus 2017. Peringatan HUT ke-72 RI mengusung tema Indonesia Kerja Bersama. ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Diplomasi meja makan kembali sukses membantu Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam mengumpulkan para elit tertinggi negeri atau mantan Presiden RI di upacara HUT Kemerdekaan ke 72 di Istana Merdeka, Kamis 17 Agustus 2017.

    Menteri Sekretaris Negara Pratikno berkata, upaya membujuk para mantan Presiden RI dimulai sejak Presiden Jokowi mengundang mereka ke Veranda Talk atau makan siang bersama di Istana Kepresidenan beberapa bulan lalu.

    Presiden Joko Widodo, kata Pratikno, menyakini cara tersebut lebih ampuh dan mudah untuk melobi mereka agar datang.

    "Alhamdulillah semua benar hadir," ujar Pratikno saat dicegat Tempo di Istana Kepresidenan dalam kesempatan berbeda, Jumat, 18 Agustus 2017.

    Baca : SBY Bertemu Mega, Ketua MPR Zulkifli Hasan: Alhamdulillah

    Sebagaimana diketahui, kehadiran para mantan Presiden RI di Istana Kepresidenan kemarin menjadi sorotan. Sebab, kemarin menjadi peristiwa bersejarah di mana seluruh mantan Presiden Indonesia berkumpul di Istana untuk pertama kalinya dalam 13 tahun.

    Pertemuan itu makin menarik karena berhasil mencairkan hubungan dingin Presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden RI ke 5 Megawati Soekarnoputri yang terbentuk sejak pertarungan mereka di pemilu 2004. Keduanya akhirnya bertemu di satu panggung, bahkan bersalaman.

    Banyak yang bertanya tanya kenapa Presiden Joko Widodo bisa berhasil melakukannya. Awalnya, Pratikno mengatakan bahwa tak upaya khusus. Namun, belakangan mengungkapkan bahwa semua itu berkat diplomasi meja makan Presiden Joko Widodo kepada mereka.

    Simak : Jusuf Kalla: Kehadiran SBY di HUT RI di Istana Tenangkan Politik

    Mantan Presiden SBY, misalnya, makan siang bersama Presiden Joko Widodo tak lama setelah Pilkada DKI Jakarta 2017. Sementara itu, dengan mantan Presiden BJ Habibie dilakukan pekan lalu dalam persiapan penyelenggaraan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional.

    Pratikno melanjutkan bahwa diplomasi meja makan tersebut, pada akhirnya, memudahkan tugas dia untuk mengundang para mantan Presiden RI ke perayaan HUT RI Ke-72. Sebab, komunikasi yang baik sudah terbentuk lebih dahulu tanpa ia harus susah payah menjalinnya.

    Pratikno menambahkan bahwa ia jadi lebih banyak mengurus teknis saja dalam mengundang para mantan Presiden Indonesia kemarin. Lagipula, kata ia, sudah ada SOP untuk teknis memanggil para mantan Presiden Indonesia.

    "Komunikasi Pak Jokowi kan bagus dengan beliau-beliau. Dengan Pak SBY bagus, Bu Mega apalagi, Pak BJ Habibie juga sering ke sini. Komunikasi bagus dari Pak Presiden Joko Widodo kuncinya," ujar Pratikno menegaskan.

    Baca juga : Kata Pengamat Soal SBY Hadiri Upacara Kemerdekaan di Istana

    Terakhir, Pratikno menyampaikan bahwa kepastian para mantan Presiden Indonesia bisa menghadiri perayaan HUT RI Ke-72 didapatkan pada sepekan terakhir. Selanjutnya seperti apa yang dilihat kemarin.

    Dimintai tanggapan soal keberhasilan Istana Kepresidenan mengundang seluruh mantan Presiden Republik Indonesia, Pratikno mengatakan pihak Istana Kepresidenan merasa bangga. "Dan kami senang masyarakat juga mengapresiasinya," ujar Pratikno mengakhiri.

    ISTMAN MP


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Ucapan Pedas Duterte, Memaki Barack Obama dan Dukung Perkosaan

    Presiden Filipina Rodrigo Duterte sering melontarkan ucapan kontroversial yang pedas, seperti memaki Barack Obama dan mengancam pemberontak wanita.