HUT RI ke-72, Ormas Katolik Ingatkan Pentingnya Spirit Pancasila  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (dari kiri) Ketua Presidium Pusat ISKA Hargo Mandirahardjo, Menteri ESDM Ignasius Jonan, Ketua Dewan Penasehat ISKA Muliawan Margadana dan Romo Antonius Widyarsono SJ dalam diskusi dengan Menteri Jonan pada Rapat Kerja ISKA 2017-2022, di gedung Konferensi Waligereja Indonesia, Jakarta Pusat, 6 Agustus 2017. Foto: Steve Elu

    (dari kiri) Ketua Presidium Pusat ISKA Hargo Mandirahardjo, Menteri ESDM Ignasius Jonan, Ketua Dewan Penasehat ISKA Muliawan Margadana dan Romo Antonius Widyarsono SJ dalam diskusi dengan Menteri Jonan pada Rapat Kerja ISKA 2017-2022, di gedung Konferensi Waligereja Indonesia, Jakarta Pusat, 6 Agustus 2017. Foto: Steve Elu

    TEMPO.CO, Jakarta -  Ketua Presidium Pusat  Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Hargo Mandirahardjo mengatakan, pentingnya menerapkan spirit  Pancasila  dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pesan itu disampaikan Hargo  berkaitan dengan HUT RI ke-72 yang berkangsung Kamis, 17 Agustus 2017.

    Ketua ISKA bersama  pimpinan sejumlah ormas mengeluarkan pernyataan bersama tentang pentingnya falsafah Pancasila dan konsep Bhinneka Tunggal Ika. Seruan ini didukung ormas Presidium Ikatan Sarjana Katolik Indonesia,  Dewan Pengurus Pusat Wanita Katolik Republik Indonesia, Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia serta Forum Masyarakat Katolik Indonesia.

    Menurut Hargo, saat ini bangsa Indonesia menghadapi kelompok yang berupaya melumpuhkan Pancasila, yang  telah  72 tahun menyangga kemerdekaan. Sejumlah organisasi  yang bersikap intoleran tersebut terus menyebarkan ideologi anti-Pancasila. "Tujuannya menggeser dasar serta  falsafah negara kita. Kondisi ini berkelindan dengan rupa-rupa kasus seperti  korupsi, penyalahgunaan narkoba, terorisme, dan masalah kemiskinan," kata Hargo kepada Tempo pada  Jumat pagi, 18 Agustus  2017.

    Ormas Katolik, kata Hargo, menyerukan perayaan kemerdekaan  yang penuh dengan kegembiraan ini harus menguatkan komitmen berbangsa yang menjunjung tinggi perbedaan. "Pancasila tak akan berbunyi bila hanya menjadi mantra tanpa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari."

    Hargo mencontohkan peran  ISKA  menggerakkan remaja Indonesia melalui aktivitas sekolah kebangsaan. Lebih dari seribu remaja dari berbagai  sekolah  di Jakarta dan Palembang mendapat pelatihan mencintai  dan membela  negara.  “Ini salah satu kontribusi ISKA di HUT RI,” ujar Hargo.

    Pada pekan lalu, Prasetyo Nurharjanto, salah satu anggota Presidium Pusat ISKA, ambil bagian dalam sarasehan kebangsaan melibatkan 700 remaja SMP dan SMA di Palembang, Sumatera Selatan. Prasetyo menyerukan pentingnya mencintai dan membela  negara, salah satu cara termudah adalah melalui  belajar beroganisasi.

    Alumnus  pendidikan  Lemhamnas  ini menjelaskan, Indonesia lahir sebagai bangsa heterogen. Sejarah mencatat bahwa Hindu, Cina, Arab dan Eropa turut mewarnai sejarah bangsa.  Kebhinekaan adalah keniscayaan sekaligus warisan yang tidak boleh dinodai dengan kegiatan-kegiatan intoleransi ,” katanya.

    Pada pekan lalu juga, Konferensi Waligereja Indonesia menggelar Konferensi Nasional Umat Katolik Indonesia bertajuk Revitalisasi Pancasila. Konferensi itu bertujuan membangun kesadaran kolektif bangsa Indonesia bahwa Pancasila dan keadilan sosial harus kembali menjadi tujuan pembangunan. HUT RI  ke-72  layak dimaknai sebagai momentum bagi  seluruh rakyat Indonesia untuk kembali  memelihara api Pancasila sebagai sumber spirit kemerdekaan.

    HERMIEN Y. KLEDEN 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.