Senin, 28 Mei 2018

Tokoh 17 Agustus: Bekerja di Tim Balap F1, Dulu Hobi Kini Rezeki  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tokoh 17 Agustus. Stephanus Widjanarko. Instagram.com

    Tokoh 17 Agustus. Stephanus Widjanarko. Instagram.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Nama Stephanus Widjanarko sudah melekat di tim balap F1 Scuderia Toro Rosso. Tephie, panggilannya akrabnya, menjadi salah satu tokoh 17 Agustus pilihan Tempo.co. Alumnus Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung angkatan 2004 ini lulus dengan nilai nyaris sempurna, 3,95 skala 4.

    Pada 2009, Tephie melanjutkan sekolah S2 dan mendapatkan beasiswa di Universiteit Twente Enschede, Belanda. Di kampus ini, Tephie mendalami bidang Engineering Fluid Dynamics/Sustainable Energy Technology. Putra kedua dari pasangan Hendra Gunawan Widjanarko, 65 tahun, dan Diah Poerwanti Prawiropermono, 64 tahun, ini memang pintar. Nilai sekolah S2 mencapai 8,05 skala 10, angka yang tergolong di atas rata-rata.

    Baca: Tokoh 17 Agustus: Arti di Balik Nama Robot Wowwi

    Tephie bersekolah di Santa Angela, Bandung, dari SD hingga SMP. Seperti anak-anak pada umumnya, masa kecil Tephie lebih sering digunakan untuk bermain di luar rumah. Bersepeda, bermain bola hingga bermain kelereng. Tephie kecil pernah kalah pintar dibanding teman sebayanya. “Saya kelas 1-3 SD pernah ranking 37 dari 42 siswa," kata Tephie kepada Tempo, 11 Agustus 2017.

    Prestasi Tephie membaik saat menginjak kelas 5 SD. Meski tidak juara kelas, ia sukses masuk 10 besar. Di SMP, prestasinya juga tidak terlalu menonjol. Masuk 10 besar hanya kadang-kadang saja. Memasuki bangku SMA, Tephie pindah ke Jakarta, tepatnya bersekolah di Kolese Kanisius, Menteng Raya, Jakarta Pusat. 


    Stephanus Widjanarko. Dok. Pribadi. 

    Masa-masa SMA di Jakarta inilah yang membawa Tephie mengenal dunia balap. Nonton F1 di televisi sudah menjadi hobi. Ia sering menonton balap pasar senggol di Kemayoran, Jakarta dan pernah juga melihat balapan di Sirkuit Internasional Sentul, Bogor, Jawa Barat.

    Selepas kuliah, Tephie lebih dulu belajar wind turbine aerodynamics dan magang di Vestas Aero di Aarhus, Denmark. Lalu bekerja selama setahun di Ducth Aerospace Agency di Amsterdam, Belanda. "Tahun 2013 saya memulai karir di Scuderia Toro Rosso," ujarnya.

    Bekerja dan tinggal di London tentu membuat Tephie jauh dari keluarga. Untuk mengobati rasa rindu, ia menggunakan WhatsApp call atau video call. "Saya sering chat juga dengan orang tua. Free app ini sangat membantu," tutur penyuka olahraga hiking ini.

    Natal dan Tahun Baru menjadi obat bagi Tephie untuk menuntaskan rasa rindunya akan kampung halaman. Di waktu itu, biasanya mudik, berlibur bersama orang tua dan keluarga. Tentunya sambil bernostalgia menikmati makanan kesukaannya.

    HUT RI ke-72 pada 17 Agustus, Tephie mempunyai jadwal padat di markas tim balap F1 Scuderia Toro Rosso. Namun, untuk mengenang jasa pahlawan merebut kemerdekaan, ia memilih untuk berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di London. "Saya ke KBRI London, dekat dengan tempat tinggal saya," katanya.

    WAWAN PRIYANTO




     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Dua Pendaki Mahasiswi Univesitas Parahyangan Gapai Seven Summits

    Pada 17 Mei 2018, dua mahasiswi Universitas Parahyangan, Bandung, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, menyelesaikan Seven Summits.