Wakil Ketua KPK: Tim Independen Novel Baswedan, Ada Kesulitan...

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan untuk pertama kalinya bertemu lagi dengan pimpinannya sejak dirawat di Singapura. Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua KPK Saut Situmorang datang untuk menemani Novel menjalani pemeriksaan oleh tim penyidik Polda Metro Jaya di Kantor KBRI Singapura. Foto/Fransisco Rosarians

    Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan untuk pertama kalinya bertemu lagi dengan pimpinannya sejak dirawat di Singapura. Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua KPK Saut Situmorang datang untuk menemani Novel menjalani pemeriksaan oleh tim penyidik Polda Metro Jaya di Kantor KBRI Singapura. Foto/Fransisco Rosarians

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK, Saut Situmorang mengatakan pendapatnya terkait desakan membentuk tim gabungan pencari fakta (TPGF) independen untuk menangani kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan. Saut menyampaikan, meski bukan kapasitasnya untuk sepakat atau tidak dengan adanya tim independen, ia berpendapat ada potensi kesulitan yang akan dihadapi.

    “Banyak perjalanan bangsa kita, tim seperti itu akhirnya, yang focal point-nya kan tetap penegak hukum. Ini harus dibawa ke pengadilan. Sebaiknya kita pakai KUHAP saja. Kalau ada wacana seperti itu, saya tidak dalam posisi mengatakan tidak,” kata Saut di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu, 16 Agustus 2017, terkait desakan pembentukan tim independen kasus Novel Baswedan.

    Baca juga:

    Kejanggalan-kejanggalan Penyidikan Kasus Novel Baswedan

    Meski demikian, Saut mengatakan keinginannya bergabung jika tim tersebut nantinya memang terbentuk. Rekan Novel di lembaga antirasuah ini ingin melihat proses penyidikan berjalan sesuai dengan seharusnya.

    Saut bersama Ketua KPK Agus Rahardjo datang untuk menemani Novel menjalani pemeriksaan oleh tim penyidik Polda Metro Jaya di KBRI Singapura. Ia mengiyakan bahwa ada beberapa pertanyaan penyidik yang tidak dijawab oleh Novel.

    Baca pula:

    Ungkap Sosok Jenderal, Ini Syarat yang Diminta Novel Baswedan

    “Saut Situmorang pun tidak boleh memaksa dia (Novel) untuk menjawab. Ini kan bukan perkara korupsi. Itu adalah otoritas dia sebagai korban,” kata Saut.

    Di sisi lain, Saut meminta publik menggarisbawahi sikap Novel yang berjiwa besar menjalani pemeriksaan resmi perdana kemarin sehingga tidak menyebabkan kegaduhan publik. Novel, menurutnya, sudah menyampaikan pesan yang ingin ia sampaikan pada publik. Mengenai penangkapan pelaku, ia menyatakan memang perlu waktu.

    “Jadi pelakunya profesional sekali, di situ yang kita musti hati-hati. Menegakkan hukum kita harus hati-hati,” kata dia.

    Novel Baswedan diserang oleh sejumlah orang tak dikenal pada subuh 11 April 2017 lalu. Pegiat antikorupsi tersebut kini masih menjalani perawatan intensif di Singapura dan akan menjalani operasi besar untuk memulihkan mata kirinya, esok tanggal 17 Agustus 2017.

    BUDIARTI UTAMI PUTRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.