Bacakan Pleidoi, Basuki Hariman Bantah Suap Patrialis Akbar

Reporter

Pengusaha importir daging Basuki Hariman menjawab pertanyaan wartawan seusai menajalni pemeriksaan lanjutan di Gedung KPK, Jakarta, 1 Februari 2017. Basuki diperiksa sebagai saksi terkait kasus suap Hakim Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbat berkaitan dengan permohonan uji materi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

TEMPO.COJakarta - Basuki Hariman, penyuap mantan hakim Mahkamah Konstitusi, Patrialis Akbar, membacakan pembelaannya di hadapan majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Senin, 7 Agustus 2017. Pengusaha impor daging itu membantah telah memberikan uang kepada Patrialis.
 
Sebagai importir, Basuki mengatakan ia sangat terkait dengan judicial review Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan yang diajukan asosiasi peternak. Untuk itu, ia mencari-cari informasi kapan uji materi itu diputus. Namun dia mengaku pernah bertemu dengan Patrialis.

Baca juga: Sebelum Menyuap Patrialis, Basuki Diduga Selundupkan Daging Impor
 
"Kepentingan saya mencari tahu jadwal putusan agar dapat menentukan strategi bisnis ke depan. Saya mencari tahu kecenderungan perubahan regulasi ke depan," ujar Basuki di hadapan majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin, 7 Agustus 2017.
 
Basuki mengakui ia menyambut baik saat dikenalkan dengan Patrialis oleh Kamaludin. Harapannya, ia dapat memperoleh informasi yang valid mengenai uji materi di Mahkamah Konstitusi. "Banyak rumor cukup lama judicial review tidak diputus," ucapnya.
 
Menurut Basuki, Patrialis adalah hakim yang kredibel. Sebab, saat bertemu, Patrialis mengatakan ia tidak mau bertemu dengan Basuki jika ia adalah orang yang tengah beperkara di MK. Patrialis, kata dia, juga melarangnya membawa tas atau uang.
 
Basuki mengakui Kamaludin pernah meminta uang US$ 50 ribu untuk kepentingan pribadinya. Namun, Basuki mengatakan, ia tidak tahu kalau uang itu bakal diberikan kepada Patrialis.
 
Basuki menyangkal ia pernah menjanjikan duit Rp 2 miliar kepada Patrialis. Menurut dia, uang itu adalah permintaan Kamaludin atas informasi yang diberikan. Namun, karena dirasa terlalu berlebihan, Patrialis hanya menyerahkan Sin$ 200 ribu. "Apabila saya niat memberi Kamaludin Rp 2 miliar, saya pasti sudah berikan semuanya," katanya.
 
Basuki mengatakan tuntutan jaksa yang memintanya dihukum 11 tahun sangat berat. Sebab, ia masih memiliki anak dan istri yang membutuhkannya. "Saya akan berhati-hati dalam bersikap selanjutnya," ujarnya.
 
Dalam kesempatan itu, Basuki meminta keringanan hukuman kepada majelis hakim. Sebab, selama ini ia sudah berusaha kooperatif semaksimal mungkin.
 
"Semoga Tuhan memberkati kalian semua. Kepada majelis, semoga diberikan hikmat petunjuk dan kebijaksanaan. Saya serahkan, saya percaya, putusan hakim merupakan kehendak Tuhan," kata Basuki.
 
Jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut Basuki Hariman dan Ng Fenny, penyuap mantan hakim Mahkamah Konstitusi, Patrialis Akbar, masing-masing dihukum selama 11 tahun dan 10 tahun 6 bulan penjara. Jaksa menyatakan keduanya terbukti bersalah menyuap Patrialis Akbar sebesar US$ 50 ribu dan menjanjikan Rp 2 miliar. 
 
MAYA AYU PUSPITASARI






Breaking News: KPK Resmi Tahan Hakim Agung Sudrajad Dimyati

1 hari lalu

Breaking News: KPK Resmi Tahan Hakim Agung Sudrajad Dimyati

Hakim Agung Sudrajad Dimyati resmi ditahan KPK hari ini. Dia ditahan sebagai tersangka kasus suap pengurusan perkara di Mahkamah Agung.


Kasus Hakim Agung Sudrajad Dimyati, KPK Geledah Mahkamah Agung

1 hari lalu

Kasus Hakim Agung Sudrajad Dimyati, KPK Geledah Mahkamah Agung

Kasus Hakim Agung Sudrajad Dimyati terus didalami KPK. Hari ini penyidik menggeledah gedung Mahkamah Agung.


Kasus Suap Rektor Unila Karomani, KPK Tanya Ini Kepada Saksi Tjitjik

14 hari lalu

Kasus Suap Rektor Unila Karomani, KPK Tanya Ini Kepada Saksi Tjitjik

Prof Karomani yang saat itu menjabat Rektor Unila terjaring operasi tangkap tangan KPK pada Sabtu, 20 Agustus 2022, di Bandung karena kasus suap.


5 Napi Korupsi Ini dapat Pembebasan Bersyarat, Ini Profil dan Kasusnya

14 hari lalu

5 Napi Korupsi Ini dapat Pembebasan Bersyarat, Ini Profil dan Kasusnya

Eks Jaksa Pinangki, Patrialis Akbar, Zumi Zola, Suryadharma Ali, Ratu Atut napi korupsi yang mendapat pembebasan bersyarat. Ini profilnya.


Diduga Terima Uang Suap Kasus Judi Online, Kanit Reskrim Polsek Penjaringan Terancam PTDH

17 hari lalu

Diduga Terima Uang Suap Kasus Judi Online, Kanit Reskrim Polsek Penjaringan Terancam PTDH

Sanksi PTDH adalah ancaman maksimal terhadap pelanggaran kode etik yang diduga dilakukan Kanit Reskrim Polsek Penjaringan dan 7 anak buahnya.


Zumi Zola, Patrialis Akbar, dan Suryadharma Ali Bebas Bersyarat

18 hari lalu

Zumi Zola, Patrialis Akbar, dan Suryadharma Ali Bebas Bersyarat

Zumi Zola, Patrialis dan Suryadharma Ali mendekam di penjara khusus koruptor dengan vonis yang beragam.


KPK Undang LPSK untuk Dalami Dugaan Suap Kasus Ferdy Sambo

33 hari lalu

KPK Undang LPSK untuk Dalami Dugaan Suap Kasus Ferdy Sambo

Saat itu LPSK mendatangi Ferdy Sambo di kantornya untuk membicarakan permintaan perlindungan dari istrinya, Putri Candrawathi dan Bharada E.


Kasus Suap Rektor Unila Disebut Mencoreng Dunia Pendidikan

33 hari lalu

Kasus Suap Rektor Unila Disebut Mencoreng Dunia Pendidikan

Ketua PP Muhammadiyah Anwar menyebut kasus suap yang diduga dilakukan Rektor Universitas Lampung (Unila) Karomani mencoreng dunia pendidikan.


Rektor Unila Tersangka Dugaan Suap, Kampus Pastikan Kuliah Berjalan Normal

33 hari lalu

Rektor Unila Tersangka Dugaan Suap, Kampus Pastikan Kuliah Berjalan Normal

Pimpinan Unila menyatakan semua aktivitas belajar mengajar dan pelayanan dasar Unila tetap berjalan sebaik-baiknya


Unila Beri Bantuan Hukum pada Rektornya yang Kena Kasus di KPK

33 hari lalu

Unila Beri Bantuan Hukum pada Rektornya yang Kena Kasus di KPK

KPK menetapkan 4 tersangka dalam kasus suap penerimaan mahasiswa baru. Tiga di antaranya pejabat Unila.