Di Depan Uskup, Buya Syafii Beberkan Bahaya Arabisme Sesat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif menjadi narasumber saat acara Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 di Jakarta, 18 April 2016. TEMPO/Subekti

    Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif menjadi narasumber saat acara Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 di Jakarta, 18 April 2016. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Cendekiawan yang juga mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah  Buya Syafii (Ahmad Syafii Maarif) menjadi pembicara dalam dialog lintas iman yang dihadiri uskup-uskup di kawasan Asia. Acara Asian Youth Day ke-7 itu berlangsung di Hotel Jayakarta, Yogyakarta, Kamis 3 Agustus 2017. Asian Youth Day merupakan sebuah ajang pertemuan pemuda Katolik se-Asia mulai 2-6 Agustus 2017 diikuti oleh 22 perwakilan negara Asia seperti India, Bangladesh, Malaysia dan lainnya.

    Di depan para uskup itu, Buya Syafii mengungkapkan pandangannya tentang penyebab Indonesia menjadi salah satu negara tempat tumbuh suburnya intoleransi, terorisme dan juga radikalisme. Pendiri Ma’arif Institute itu menuturkan, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi tumbuhnya radikalisme itu. Salah satunya ketidakadilan sosial ekonomi yang terjadi di Indonesia juga korupsi yang masih marak.  “Hal itu ditambah parah akibat masuknya ideologi impor yang saya sebut misguided Arabism (Arabisme sesat),” ujar Buya.

    Baca juga: Menteri Agama dan Sultan Main Othok-othok di Asian Youth Day 2017

    Contoh Arabisme sesat itu, ujar Buya, berwujud seperti gerakan Negara Islam di Irak Suriah (ISIS) dan juga Boko Haram di Afrika.  Namun, ujar Buya, mengapa sebagian muslim Indonesia terpengaruh oleh gerakan ideologi impor sesat itu? Buya menuturkan, mereka yang terpengaruh ideologi itu karena meyakini bahwa arabisme adalah bagian dari Islam.

    “Dan orang orang Arab dianggap lebih mengerti Islam dibandingkan bangsa kami, padahal itu tidak benar, ” ujar Buya. Buya menegaskan bahwa tak semua umat Islam menyetujui gerakan-gerakan radikal itu.

    Baca juga: Ratusan Remaja Katolik Berbagai Negara Kunjungi Masjid Istiqlal 

     “Tentu orang Arab fasih berbahasa Arab dan mereka bisa menghafal Al Quran dengan mudah. Tapi apakah mereka betul-betul memahami makna sebenarnya dari isi Al Quran?” ujar Buya.

    Buya Syafii menambahkan, jika orang-orang Arab penganut ideologi sesat itu benar-benar  memahami Al Quran, tentu tidak akan membunuh sesamanya. “Faktanya, ISIS membunuh jauh lebih banyak umat Islam, itu apa? Bagi saya, arabisme sesat itulah musuh terbesar Islam,” ujar Buya.

    Baca juga: Ryamizard Dukung Pemblokiran Medsos untuk Tangkal Radikalisme

    Kepada para uskup itu, Buya menegaskan, bahwa Al Quran sebenarnya adalah kitab suci paling toleran di dunia. Asal dipahami dan ditafsirkan dengan benar.  Pernyataan Buya itu mengacu pada Surat Yunus ayat 99 yang tak dimiliki oleh kitab suci apa pun.

    Buya Syafii menuturkan, inti ayat itu berbunyi  “‘Sekiranya Tuhanmu menghendaki, maka akan berimanlah seluruh penduduk bumi, apakah engkau Muhammad, ingin memaksa manusia agar beriman? Itu bukan tugasmu!’ ujar Buya. "Tapi kelakuan sebagian kecil umat memilih mengkhianati ajaran Al Quran itu demi syahwat kekuasaannya, Tuhan telah dibajak mereka.”

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.