Wiranto: Pemerintah Benahi Prosedur Pemadaman Kebakaran Hutan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menkopolhukam Wiranto (tengah) bersama Menkumham Yasonna H. Laoly (kiri), Mendagri Tjahjo Kumolo  (kedua kanan), dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian (kanan) memberi keterangan pers di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, 8 Mei 2017. ANTARA FOTO

    Menkopolhukam Wiranto (tengah) bersama Menkumham Yasonna H. Laoly (kiri), Mendagri Tjahjo Kumolo (kedua kanan), dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian (kanan) memberi keterangan pers di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, 8 Mei 2017. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengatakan pihaknya tengah membenahi prosedur pemadaman hutan dan lahan yang selama ini dilakukan lewat jalur darat maupun water bombing. Pembiayaan dan izin penggunaan pesawat untuk water bombing dari udara, menurut dia, masih bermasalah. 
     
    "(Soal) water bombing dari pesawat yang kita sewa dari luar (negeri) apakah ada izin? Itu yang kita atasi bersama. Juga soal bagaimana pelibatan TNI dan Polri, bagaimana pembiayaannya," kata Wiranto setelah rapat koordinasi terbatas mengenai kebakaran hutan di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis, 3 Agustus 2017.

    Baca juga: Wiranto Pimpin Rapat Koordinasi Menteri Bahas Kebakaran Hutan
     
    Dia mengingatkan bahwa pemerintah telah membentuk satuan tugas di daerah rawan kebakaran lahan. Selain mengawasi titip api yang muncul secara alami, satgas dituntut mencegah praktek pembakaran hutan oleh masyarakat. 
     
    Masyarakat di kawasan padat hutan, menurut dia, terbiasa membakar lahan untuk bertani. "Untuk masyarakat adat, bagaimana kebiasaan membakar hutan itu bisa dialihkan sedikit demi sedikit. Ini kan bukan pekerjaan yang mudah."
     
    Setelah rapat yang dihadiri sejumlah menteri dan kepala lembaga itu, Wiranto memastikan bahwa titik api tak akan lepas dari penginderaan satelit. Dia belum merincikan jumlah titik api terakhir yang dipantau pemerintah melalui satelit. Hasil pengamatan satelit, masih harus didukung pengamatan langsung di lokasi. 
     
    "Tapi dari penginderaan satelit bisa diperiksa, paling banyak (titik api di) Sumatera dan Kalimantan. Hanya ada beberapa daerah yang tidak terdaftar sebagai (lokasi rawan)  kebakaran hutan, sekarang muncul, yaitu Aceh, Kalimantan Barat dan Nusa Tenggara Timur," ujar Wiranto
     

    YOHANES PASKALIS PAE DALE
     
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Yang Datang ke Istana, Ada Nadiem Makarim dan Tito Karnavian

    Seusai pelantikannya, Presiden Joko Widodo memanggil sejumlah nama ke Istana Negara, Senin, 21 Oktober 2019. Salah satunya, Tito Karnavian.