Begini Kekeringan Landa Ribuan Warga di Tiga Kecamatan di Tegal  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kekeringan. REUTERS/Mohamed Abd El Ghany

    Ilustrasi kekeringan. REUTERS/Mohamed Abd El Ghany

    TEMPO.CO, Tegal - Ribuan warga di Kabupaten Tegal kesulitan air bersih sejak kekeringan melanda desa mereka dalam sebulan terakhir. Mereka terpaksa mengandalkan bantuan air bersih dari pemerintah. Bahkan terkadang warga menggunakan sisa air hujan untuk memenuhi kebutuhan mencuci dan mandi.

    Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal Tedjo Kisworo mengungkapkan penduduk yang kesulitan air bersih tinggal di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Suradadi, Dukuhwaru, dan Balapulang.

    Baca: Jokowi: Masalah di NTT Hanya Air

    Sedangkan desa yang terdampak ada enam, di antaranya Desa Kertasari dan Jatimulya, Kecamatan Suradadi, serta Desa Gumayun dan Sindang, Kecamatan Dukuhwaru.

    “Lalu warga di Desa Sesepan dan Kalibakung, Kecamatan Balapulang,” ujarnya kepada Tempo, Rabu, 2 Agustus 2017.

    Dia mengatakan, dalam sebulan terakhir, BPBD secara intensif mengirim bantuan air bersih ke desa-desa. Dia mengaku harus jemput bola ke lokasi kekeringan karena selama ini tidak mendapatkan laporan dari warga atau perangkat desa setempat.

    “Kami sangat berharap perangkat desa yang wilayahnya dilanda kekeringan bisa melaporkan ke kami. Kami pastikan stok air bersih tercukupi,” ucapnya.

    Menurut warga sekitar, selama musim kemarau, penduduk hanya mengandalkan bantuan air bersih dari pemerintah. Air itu digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, mencuci, dan minum. Air bersih dari perusahaan daerah air minum dalam sebulan belakangan kerap tidak mengalir.

    Simak pula: Air Seret, Ribuan Hektare Sawah Terancam Gagal Tanam

    Pada Selasa, 1 Agustus 2017, BPBD Kabupaten Tegal menyuplai air bersih ke empat desa tersebut. Mobil tanki yang membawa bantuan air bersih langsung diserbu warga.

    ”Alhamdulillah ini dapat air bersih. Biasanya beli air PAM Rp 4.000 satu jeriken,” ujar Tamari, warga Desa Kertasari.

    Menurut dia, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama kekeringan melanda, seperti mandi dan mencuci, penduduk terkadang menggunakan sisa air hujan. Jika ada hujan, dia dan warga lain menampungnya dengan ember. “Kalau tidak ada hujan, ya, pakai air irigasi untuk cuci dan mandi,” tuturnya.

    MUHAMMAD IRSYAM FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Skenario Satu Arah Pada Arus Mudik 2019 di Tol Jakarta - Cikampek

    Penerapan satu arah ini dilakukan untuk melancarkan arus lalu lintas mudik 2019 dengan memanfaatkan jalur A dan jalur B jalan Tol Jakarta - Cikampek.