Setelah Telegram, Rudiantara Bertemu Facebook Soal Konten Radikal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara memberikan keterangan kepada pers terkait serangan Ransomware baru bernama WannaCry di Jakarta, 14 Mei 2017. Kementerian Kominfo melakukan himbauan dan serangkaian penangkalan dan penanganan mengatasi serangan malware. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara memberikan keterangan kepada pers terkait serangan Ransomware baru bernama WannaCry di Jakarta, 14 Mei 2017. Kementerian Kominfo melakukan himbauan dan serangkaian penangkalan dan penanganan mengatasi serangan malware. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta -Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyampaikan bahwa Telegram bukan perusahaan media sosial terakhir yang akan menemui dirinya mengenai konten radikal. Facebook pun akan menemuinya. "Line sudah, Facebook harusnya besok (hari ini, Rabu 2 Agustus 2017)," ujarnya, kemarin.

    Rudiantara menjelaskan, inti pertemuan dengan Facebook tak akan jauh berbeda dengan pihak Telegram, yakni menunjukkan bahwa banyak catatan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengenai media sosial yang belum dipenuhi. Secara keseluruhan, kata Rudiantara, baru 50 persen catatan Kemenkominfo perihal media sosial yang direspons, baik oleh Facebook maupun perusahaan sejenis.

    Baca juga:
    Telegram Janji Blokir Konten Terorisme dengan Cepat

    Harapannya, dari pertemuan tersebut, bisa didapatkan jalan tengah atau kerja sama yang pas. Di sisi lain, menurut Rudiantara, untuk menunjukkan bahwa Indonesia tidak main-main perihal penanganan konten radikal di media sosial.

    "Sesekali harus ditunjukkan bahwa jangan main-main sama kita. Kalau Anda kerja sama dengan kami, kami juga akan dukung Anda," ucapnya.

    Baca pula:
    Enkripsi Telegram Tetap Tidak Bisa Diakses Kominfo

    Sebagaimana diberitakan, Indonesia tengah getol menangani terorisme. Salah satunya lewat penutupan situs, aplikasi, dan akun yang berkaitan dengan kelompok radikal. Perusahaan penyedia layanan percakapan, Telegram , menjadi perusahaan media pertama yang diblokir Indonesia akibat membiarkan konten-konten kelompok radikal.

    ISTMAN MP 



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?