Penjelasan Wiranto Soal Kerja Sama Mengeroyok ISIS di Marawi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menko Polhukam Wiranto menjawab pertanyaan awak media usai menggelar pertemuan tertutup dengan Duta Besar Spanyol untuk Indonesia Jose Maria Matres Manso, di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, 21 Juni 2017.  TEMPO/Imam Sukamto

    Menko Polhukam Wiranto menjawab pertanyaan awak media usai menggelar pertemuan tertutup dengan Duta Besar Spanyol untuk Indonesia Jose Maria Matres Manso, di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, 21 Juni 2017. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mendorong sejumlah negara ikut mendesak basis kelompok radikal ISIS yang berkembang di kawasan Marawi, Filipina Selatan. Wiranto merujuk pada negara peserta Sub-Regional Meeting on Foreign Terrorist Fighters and Cross Border Terrorism (SRM FTF-CBT) yang digelar di Manado, Sulawesi, Sabtu lalu, 29 Juli 2017.

    "Saya dari Manado, mengajak teman-teman dari Australia, Selandia Baru, Malaysia, Filipina, Brunai Darussalam untuk bersama-sama keroyok basis ISIS baru di Marawi," ujar Wiranto saat ditanyai di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Senin, 31 Juli 2017.

    Baca: Wiranto Ajak 5 Negara Bersihkan Marawi dari ISIS

    Basis ISIS di Marawi, merupakan hasil pemindahan pusat ISIS di Suriah yang telah hancur.
    "Itu konsep pemindahan pusat ISIS di Suriah yang telah digempur semua oleh negara sekutu, maka mereka (ISIS) mencoba untuk masuk ke konsep divergen," ujarnya.  Konsep percabangan, alias divergen itulah yang kini menjadi sorotan oleh sejumlah negara kawasan Asia Tenggara.

    Forum FTF-CBT di Manado menjadi peluang kerja sama enam negara, termasuk Indonesia, untuk menggempur ISIS. Tiga poin utama yang dibahas dalam pertemuan tersebut, yakni perkembangan terorisme di sub-kawasan, upaya peningkatan kerjasama terkait counter violent extremism dan deradikalisasi, serta upaya penguatan kerangka dan kerjasama hukum.

    Baca: Wiranto: Amerika Serikat Akan Bantu Indonesia Perangi Terorisme  

    Kegiatan itu pun berujung pada sejumlah kesepakatan untuk menekan propaganda teroris.  Selain rencana membentuk forum tentang FTF (foreign terorist fighter) untuk memperkuat kerjasama antara penegak hukum dan badan intelijen, keenam negara akan menjalin kerja sama dengan penyedia layanan media sosial, video file sharing, dan messaging.

    "Jadi perusahaan-perusahaan media sosial nantinya ikut membantu kami mencari keberadaan teroris atau menangkal secara langsung," kata Wiranto.

    Forum itu pun menekankan perlunya studi komparatif hukum terkait terorisme yang ada di masing-masing negara, serta peningkatan kerja sama antar badan imigrasi untuk mengamankan batas negara. Menkopolkam Wiranto merupakan wakil dari Indonesia.

    YOHANES PASKALIS PAE DALE


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Yang Datang ke Istana, Ada Nadiem Makarim dan Tito Karnavian

    Seusai pelantikannya, Presiden Joko Widodo memanggil sejumlah nama ke Istana Negara, Senin, 21 Oktober 2019. Salah satunya, Tito Karnavian.