Kasus Novel Baswedan, Fadli Zon: Jangan Sampai Jadi Bola Liar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua DPR, Fadli Zon, saat menghadiri acara open house di rumah dinas Ketua DPR, Setya Novanto, Jalan Widya Chandra III, Jakarta. 25 Juni 2017. TEMPO/Ahmad Faiz

    Wakil Ketua DPR, Fadli Zon, saat menghadiri acara open house di rumah dinas Ketua DPR, Setya Novanto, Jalan Widya Chandra III, Jakarta. 25 Juni 2017. TEMPO/Ahmad Faiz

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fadli Zon menilai pengusutan kasus penyiraman terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan berjalan lambat dan berharap segera diselesaikan.

    "Ini sudah berjalan hampir 4 bulan dan biasanya untuk kasus lain berjalan cepat tetapi dalam kasus ini berjalan lambat," kata Fadli, politikus Partai Gerindra, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Selatan, Senin, 31 Juli 2017. 
    Baca : Ada Tiga Sketsa Wajah Penyerang Novel Baswedan

    "Ada kesan yang mungkin ditutupi atau kesan yang tidak transparan," kata Fadli Zon. Menurut dia, penyelesaian kasus penting agar tak menjadi bola liar.

    Dia menilai kasus Novel Baswedan telah menjadi perhatian publik. Fadli Zon berpendapat informasi yang ada mestinya bisa menjadi bahan kepolisian untuk mengusut kasus ini.
     
    Fadli Zon menegaskan bahwa Novel memerlukan keadilan pasca-serangan terhadap dirinya. Meski begitu, tak kunjung tuntasnya kasus ini, kata Fadli, bukan berarti kepolisian tak serius mengusut kasus ini. "Saya kira mereka (polisi) punya jalan, tapi mungkin dianggap lambat oleh publik," ujarnya.

    Wakil DPR dari fraksi Partai Demokrat Agus Hermanto setali tiga uang. Menurut dia, kasus serangan terhadap Novel Baswedan telah menjadi persoalan rumit dan menyita waktu yang terlalu lama.

    Simak juga : Lelaki Gempal di CCTV Rumah Novel Baswedan itu...  

    "Sampai saat ini belum ada kejelasannya, karena pemerintah tidak secepatnya mengatasi ini," ujar dia. 
     
    Agus mengaku telah merekomendasikan kepada Presiden untuk segera membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) untuk mengusut penyerangan terhadap Novel Baswedan. Namun, hasilnya nihil. "TPF itu menurut saya tidak bisa dipungkiri. Harus ada, kalau enggak ada, rasanya makin lama bisa terungkap," kata dia. 
     
    ARKHELAUS W.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Yang Datang ke Istana, Ada Nadiem Makarim dan Tito Karnavian

    Seusai pelantikannya, Presiden Joko Widodo memanggil sejumlah nama ke Istana Negara, Senin, 21 Oktober 2019. Salah satunya, Tito Karnavian.