Ribuan Penonton Saksikan Karnaval Keberagaman Purwakarta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi karnaval. TEMPO/Budi Purwanto

    Ilustrasi karnaval. TEMPO/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Purwakarta - Ribuan penonton membanjiri perhelatan Karnaval Keberagaman di Purwakarta, Jawa barat, yang dihelat Jumat malam, 28 Juli 2017. Iring-iringan karnaval yang diikuti umat Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, Khong Hu Chu dan keyakinan kultural tersebut, dimulai dari pertigaan Jalan Sudirman hingga pertigaan Jalan Martadinata.

    Karnaval Keberagaman tersebut mengambil tema:Sunda Spirit Pancasila. Dibuka langsung oleh Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi dan dia pun larut ikut berjalan kaki dalam karnaval berjarak tiga kilometeran itu.

    Para peserta dari enam agama resmi yang diakui pemerintah plus komunitas kepercayaan kultural tersebut, mengenakan pakaian khas agama dan keyakinan mereka masing-masing. Sehingga, karnaval tampak semarak dan penuh warna.

    Menurut Dedi, Karnaval Keberagaman yang digelar dalam rangkaian Hari Jadi Purwakarta Ke-186 Kota Purwakarta dan Kabupaten Purwakarta ke-46 itu, merupakan perwujudan dari pengamalan Sila ke-1 dari Pancasila. Secara berurutan, setiap Jumat malam dalam setiap pekan diadakan Karnaval Keberagaman, pengamalan dari Sila ke-1 sampai Sila ke-5.

    "Jumat malam pertama kami sajikan karnaval pengamalan dari Sila Berketuhanan, diteruskan dengan Sila Berketuhanan, Berkesatuan, Berpersatuan, Berpermuasyawaratan dan Jumat malam ke-5 giliran Sila Berkeadilan," kata Dedi.

    Menurut Dedi, sejauh ini, mayoritas bangsa Indonesia baru memahami Pancasila hanya seperti buku saja, belum pada nilai-nilai pengalamannya. "Kami di Purwakarta ingin menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila benar-benar sudah diamalkan dalam keseharian," tuturnya.

    Pendeta Gereja Katolik Salib Suci Purwakarta, Paulinus Widjaya, mengapresiasi langkah pemkab yang melangsungkan peringatan hari jadinya dengan Karnaval Keberagaman. "Luar biasa, perwujudan toleransi yang baik telah di kedepankan di Purwakarta," ujar Paulinus. "Kedamaian di Purwakarta pun pasti akan terpelihara dengan baik."

    Dadang, mahasiswa Fakultas Hukum sebuah perguruan tinggi asal Karawang yang sengaja datang dan menghadiri perhelatan Karnaval Keberagaman, kagum. "Nilai-nilai keberagaman di Purwakarta bukan cuma isapan jempol. Tetapi, nyata," ujar Dadang. Ia mengatakan pantas jika karnaval tersebut dijadikan contoh oleh daerah lainya.

    NANANG SUTISNA
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?