ITB Sebut Tak Ada Dosen Terlibat Ikut HTI, tapi Simpatisannya...

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gedung Aula Barat di lingkungan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). TEMPO/ A. Andrian

    Gedung Aula Barat di lingkungan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). TEMPO/ A. Andrian

    TEMPO.CO, Bandung - Institut Teknologi Bandung menyatakan tidak ada dosen yang terlibat dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) berdasarkan data yang ada. Walau begitu menurut Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB Bermawi Priyatna, tidak berarti kampus itu bebas sama sekali dari HTI.

    "Simpatisannya secara umum banyak. Peraturan Pemerintah pengganti Undang-undang semoga jadi alarm buat mereka," kata Bermawi, Jumat, 28 Juli 2017.
    Baca : Dosen Terlibat HTI, Rektor Unhas Dwia Aries: Kita Bina Dulu

    ITB akan membuat surat edaran kepada dosen dan staf soal keterlibatan dengan HTI. Pelanggar akan berhadapan dengan aturan negara. "Sebagai Alat Sipil Negara ia disumpah setia kepada Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujarnya.
     
    Larangan keterlibatan dengan HTI kata Bermawi, sebelumnya telah diedarkan ke kalangan mahasiswa. ITB mengingatkan agar mahasiswa menaati aturan kampus.

    "Tidak boleh kegiatan kampus berafiliasi dengan organisasi sosial, massa, dan partai politik apa pun," ujarnya.

    Terkait dengan keinginan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu soal materi Bela Negara dalam orientasi mahasiswa baru, menurut Bermawi, sulit diterapkan secara utuh pada saat ini.

    Simak pula : Menteri Minta Rektor Tangani Dosen yang Terlibat HTI  

    Alasannya, materi orientasi mahasiswa baru telah dirancang lama. "Kami tidak bisa mengubah materinya secara drastis," kata dia. Materi Bela Negara yang lengkap rencananya akan dibahas bersama dengan tentara untuk program selama setahun di ITB bagi mahasiswa baru.

    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?