Inilah Gunarno, Pembuat Nasi Goreng di Pertemuan SBY - Prabowo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gunarno, 47 tahun, penjual nasi goreng khas Ngawi di Cikeas, Bogor yang menyediakan makan malam saat Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menjamu Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto pada Kamis malam, 27 Juli 2017. Tempo Avit Hidayat

    Gunarno, 47 tahun, penjual nasi goreng khas Ngawi di Cikeas, Bogor yang menyediakan makan malam saat Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menjamu Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto pada Kamis malam, 27 Juli 2017. Tempo Avit Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Gunarno tiba-tiba berada di tengah perbincangan dua tokoh penting nasional: Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subiyanto. Pria 47 tahun ini bukan pesaing politik yang harus diwaspadai, tapi hanya seorang pedagang nasi goreng.

    "Intel Pak SBY masih kuat. Beliau tahu kelemahan Prabowo adalah nasi goreng. Asalkan diberikan nasi goreng, Pak Prabowo setuju," kata Prabowo berseloroh, seusai pertemuan dengan SBY di rumah pribadi SBY di Cikeas, Kabupaten Bogor.

    Baca juga: Ini Pujian Prabowo pada Nasi Goreng Gunarno

    Yang dibicarakan oleh Prabowo adalah nasi goreng racikan Gunarno. Dalam pertemuan politik pada Kamis malam, 27 Juli 2017 itu, Gunarno dipesan oleh petugas keamanan SBY untuk menyiapkan 80 porsi nasi goreng Ngawi buatannya.

    Jadilah Gunarno mengusung gerobak berikut tiga asistennya, yaitu istrinya Sri Hartini dan dua anaknya, ke rumah SBY. Begitu tiba, ia langsung menyiapkan wajan besar untuk menggoreng nasi, sedangkan sang istri sibuk menyiapkan potongan ayam dan merajang sayur, dan dua anaknya menyiapkan nasi dan piring.

    Pujian Prabowo, yang menyebut nasi goreng itu luar biasa enak, membuat Sri dan Gunarno sumringah. Namun mereka merendah dengan mengatakan tidak ada rempah-rempah khusus. Nasi goreng yang ia buat dari bumbu sama, seperti bumbu pada nasi goreng kebanyakan.

    Gunarno bukan wajah baru di rumah SBY. Ia sudah menjadi langganan di sana sejak SBY masih Presiden RI pada 2009. Setiap ada acara di rumah pribadi orang nomor 1 Indonesia di Cikeas itu, Gunarno diminta menyajikan hidangan. Biasanya SBY akan memesan lebih seratus porsi sesuai dengan jumlah tamu yang datang.



    SBY menjamu Prabowo dengan menu nasi goreng Gunarno. (istimewa)

     
    Tetangga SBY, mantan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto juga kepincut dengan nasi goreng bernama Jatim Ngawi tersebut. Kata Sri, Djoko juga sering mengundang mereka jika menggelar acara. “Bahkan gerobak kami pernah dibawa ke Halim, di sebuah acara Pak Djoko,” tutur Sri.

    Sehari-hari Sri dan Gunarno membuka lapak di perempatan masuk ke Cikeas, Bogor. Di tempat itu ia sudah berjualan lebih dari 13 tahun. Usaha itu dimulai dari pertanyaan sederhana dari Sri. “Kenapa ya kok di sini belum ada nasi goreng Ngawi? Dari ide itu, saya bikin dan jualan di perempatan itu.”

    Lama-kelamaan, nasi goreng racikan Sri dan Gunarno tersohor di tempat itu, hingga sampai ke telinga SBY. Akhirnya pada 2009 mereka ditawari untuk membuatkan hidangan nasi goreng di rumah SBY. Kata dia, dulu semasa SBY menjabat presiden, ia sering diundang menjamu para tamunya.

    Simak juga: Bertemu SBY, Prabowo: Presidential Threshold Lelucon Politik

    Sejumlah pejabat dan tokoh negara sudah mencicipi nasi goreng buatan Sri dan Gunarno, di antaranya adalah Mantan Wakil Presiden Boediono, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan sejumlah tokoh lain, termasuk politisi partai Demokrat. Ia merasa senang dapat menyajikan makanan bagi para tokoh negara tersebut.

    Gunarno malam itu pulang dengan menyimpan pernyataan Prabowo, “Tadi makan nasi goreng yang luar biasa enaknya”. Ingin mencoba kehebatan nasgor Ngawi ala Gunarno, silakan meluncur ke Jalan Alternatif Cibubur, cari perempatan Cikeas.

    AVIT HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.