Indonesia Tuan Rumah Konferensi Enam Negara Bahas Terorisme

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dubes Australia untuk Indonesia Paul Grigson didampingi Menko Polhukam Wiranto, menjawab pertanyaan wartawan usai melakukan pertemuan di kantor Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta, 7 Juni 2017. Pertemuan ini membahas peningkatan kerjasama penanganan terorisme dalam upaya mencegah kelompok ISIS membangun basis di Asia Tenggara, di mana saat ini kelompok militan Maute berafiliasi dengan ISIS melancarkan aksinya di Marawi, Filipina. TEMPO/Imam Sukamto

    Dubes Australia untuk Indonesia Paul Grigson didampingi Menko Polhukam Wiranto, menjawab pertanyaan wartawan usai melakukan pertemuan di kantor Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta, 7 Juni 2017. Pertemuan ini membahas peningkatan kerjasama penanganan terorisme dalam upaya mencegah kelompok ISIS membangun basis di Asia Tenggara, di mana saat ini kelompok militan Maute berafiliasi dengan ISIS melancarkan aksinya di Marawi, Filipina. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Indonesia mempersiapkan diri menjadi tuan rumah pelaksanaan konferensi terorisme  di Asia Tenggara yang diikuti enam negara. Konferensi Sub Regional Meeting on Foreign Terrorist Fighters and Cross Border Terrorism (SRM FTF-CBT) ini khusus menyoroti persoalan terorisme di kawasan Asia Tenggara.

    Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto pun menggelar rapat koordinasi di kantornya, Rabu pagi, 26 Juli 2017 untuk membahas forum  tersebut. “Acara ini akan dilaksanakan di Manado pada 29 Juli 2017 selama dua hari,” ujar Wiranto, dikutip dari keterangan pers Kemenkopolhukam.

    Pertemuan itu, ujar Wiranto, mempertemukan enam negara, yaitu New Zealand, Australia, Brunei Darusalam, Malaysia, Filipina, dan Indonesia.

    Baca: Poso Jadi Basis ISIS, Wiranto: Kami Akan Gempur Habis-Habisan

    Dia mengatakan forum FTF CBT itu akan khusus mendalami anatomi, kondisi, dan situasi terkait terorisme yang berkembang di Filipina Selatan, serta cara menanggulanginya. “Semua negara di Asia Tenggara sepakat tidak mau wilayahnya dijadikan sebagai basis baru dari ISIS.”

    Keenam negara akan merundingkan berbagai metode yang memungkinkan untuk memberangus aktivitas ISIS di Filipina Selatan, khususnya kawasan Sulu. Menurut Wiranto, kerja sama penanggulangan terorisme bisa dilakukan di berbagai sektor.

    “Apakah masuk pada wilayah cyber, apakah kita masuk wilayah keleluasaan kegerakannya dengan patroli maritim bersama, apakah tukar menukar informasi dan pengalaman, bersama-sama melakukan pembelajaran bagaimana fighter terrorist yang kembali ke wilayah masing-masing negara, atau mencoba memotong jalur-jalur logistiknya. Itu semua kita akan rundingkan di sana,” kata Wiranto.

    Baca: 3 Langkah Menkopolhukam Wiranto Perangi Terorisme dan ISIS

    Purnawirawan jenderal TNI ini pun mengingatkan bahwa Indonesia sudah dikenal dunia karena langkah-langkah efektif dalam penanganan terorisme. Pendekatan non-fisik, atau soft approach adalah salah satu metode Pemerintah RI yang sempat diapreasiasi negara lainnya.

    “Di hulu kita cegat dengan operasi soft approach, pembinaan dan deradikalisme. Dibina untuk menjadi kekuatan melawan balik aksi-aksi terorisme. Itu yang membuat Indonesia saat ini mendapatkan apresiasi,” tuturnya. 

    Rapat koordinasi persiapan forum terorisme FTF CBT dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Komisaris Jenderal Suhardi Alius, Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Kiagus Ahmad Badaruddin, dan jajaran pejabat Kemenkopolhukam.
     

    YOHANES PASKALIS PAE DALE


     

     

    Lihat Juga