Penyebab TNI AL Belum Karamkan 6 Kapal Pencuri Ikan asal Vietnam

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kasal Ade Supandi saat meninjau KRI Rigel - 933 saat acara serah terima KRI Rigel-933 dan KRI Spica-934 di Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta, 15 Maret 2016. TNI Angkatan Laut kini diperkuat dengan kehadiran dua kapal perang jenis OSV (Oceanographic Offshore Support Vessel) atau BHO (Bantu Hidro Oseanografi). TEMPO/Subekti.

    Kasal Ade Supandi saat meninjau KRI Rigel - 933 saat acara serah terima KRI Rigel-933 dan KRI Spica-934 di Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta, 15 Maret 2016. TNI Angkatan Laut kini diperkuat dengan kehadiran dua kapal perang jenis OSV (Oceanographic Offshore Support Vessel) atau BHO (Bantu Hidro Oseanografi). TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta  - Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) Laksamana  Ade Supandi mengatakan enam kapal Vietnam hasil tangkapan TNI AL pada Jumat pekan lalu belum akan ditenggelamkan. Sebab, kata dia, masalah itu masih akan dikoordinasikan.

    "Nanti kami koordinasikan dulu. Itu kan pelanggaran perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan juga punya otoritas untuk menangani kegiatan illegal fishing," ujar Ade Supandi di kompleks Istana Kepresidenan, Selasa, 25 Juli 2017.

    Baca: Lelang Kapal Vietnam Ditunda, Menteri Susi Minta Ditenggelamkan

    Sebagaimana telah diberitakan, armada TNI AL di Lantamal IV Kepulauan Riau berhasil menangkap kapal asing asal Vietnam yang ketahuan melakukan kegiatan pencurian ikan. Kapal tersebut ketahuan mencuri ikan di perairan Natuna.

    Kapal-kapal tersebut, menurut Ade, sekarang berada di Lanal Tarempa untuk menunggu proses hukum lebih lanjut. Setelah penangkapan kapal Vietnam,  ujar Ade, patroli perairan di lokasi kejadian makin diintensifkan untuk mencegah kasus serupa.

    Simak: Jokowi Minta Vietnam Perangi Pencurian Ikan

    Ade menuturkan bahwa kasus pencurian ikan oleh kapal Vietnam bukan pertama kalinya. Sebab, TNI AL sudah seratusan kali mendapati kasus illegal fishing. Sebagian besar pelakunya berasal dari Filipina dan Vietnam. "Seratusan (kasus) itu dari berbagai negara mulai dari Thailand, Cina, Taiwan, Vietnam, hingga Malaysia. Tetapi, untuk Cina dan Thailand sudah berkurang banyak," ujar dia.

    ISTMAN M.P.


     

     

    Lihat Juga