Radikalisme Jadi Bahasan Jambore Penyuluh Agama Islam Jawa Timur  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan ribu warga Sukoharjo yang didominasi pelajar SLTA dan orgnisasi masa berkumpul di Alun-alun Satya Negara, Sukoharjo, 29 Juli 2016. Dengan dipimpin oleh Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya mereka mendeklarasikan anti radikalisme dan mengecam praktik bom bunuh diri di Mapolresta Solo jelang Lebaran lalu. Acara deklarasi tersebut juga dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (Muri) dengan kategori peserta terbanyak yaitu 26.955 orang. Bram Selo Agung/Tempo

    Puluhan ribu warga Sukoharjo yang didominasi pelajar SLTA dan orgnisasi masa berkumpul di Alun-alun Satya Negara, Sukoharjo, 29 Juli 2016. Dengan dipimpin oleh Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya mereka mendeklarasikan anti radikalisme dan mengecam praktik bom bunuh diri di Mapolresta Solo jelang Lebaran lalu. Acara deklarasi tersebut juga dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (Muri) dengan kategori peserta terbanyak yaitu 26.955 orang. Bram Selo Agung/Tempo

    TEMPO.CO, Lumajang - Kabupaten Lumajang menjadi tuan rumah Jambore Penyuluh Agama Islam se-Jawa Timur, yang salah satunya membahas isu radikalisme.

    Dalam jambore pertama yang digelar di perkampungan Suku Tengger di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Senin-Rabu, 24-26 Juli 2017, salah satu isu yang dibahas adalah menangkal isu radikalisme dan transnasional serta kemiskinan.

    Baca: Presiden Jokowi: Islam Radikal Bukan Islamnya Indonesia
     
    Jambore Penyuluh Agama Islam yang baru pertama digelar di Jawa Timur ini diikuti lebih dari 300 penyuluh dari 38 kabupaten dan kota se-Jawa Timur. Sejumlah tokoh yang ikut menghadiri pembukaan Jambore Penyuluh Islam ini, antara lain Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Romahurmuziy, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Wayan Samsul Bachri, dan Bupati Lumajang As'at. 
     
    Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengatakan hal yang perlu diperhatikan penyuluh agama saat ini adalah bagaimana mengajak masyarakat bisa memahami dan melaksanakan agama dengan benar sekaligus menyadari bahwa mereka hidup di Indonesia. 
     
    "Kita tidak hidup di Timur Tengah atau negara-negara lain, tapi di Indonesia. Inilah yang perlu terus digaungkan sebagai penyuluh di tempat tugas masing-masing," kata Gus Ipul, sapaan Saifullah. Menurut dia, hari-hari ini kehidupan berbangsa dan bernegara sedang digaduhkan dengan persoalan paham radikal.

    Sebelum datang ke Lumajang, Gus Ipul menuturkan sempat berkunjung ke acara pertemuan perguruan tinggi swasta se-Jawa Timur di Malang. "Salah satu tantangannya adalah adanya paham-paham radikal yang sudah merambah ke dunia perguruan tinggi, selain juga meningkatkan mutu perguruan tinggi" ucapnya.
     
    Isu aktual tersebut, kata Gus Ipul, perlu direspons bersama di setiap level sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing.

    "Di samping mengajak masyarakat memahami agama dengan benar dan melaksanakannya serta menyadari hidup di Indonesia, diharapkan para penyuluh juga ikut memberdayakan umat, memberdayakan masyarakat, terutama di bidang ekonomi," tuturnya. 

    Simak juga: Jusuf Kalla Minta Menkominfo Kejar Radikalisme di Internet
     
    Sebab, kata Gus Ipul, isu yang juga sedang menyeruak saat ini adalah tentang kesenjangan dan kemiskinan, yang perlu diatasi bersama. "Saya menyambut baik penyuluh yang juga ikut perhatian terhadap pemberdayaan masyarakat, khususnya bidang perekonomian," katanya.

    Gus Ipul menambahkan, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur di atas rata-rata nasional serta pengangguran selalu di bawah rata-rata nasional. "Ironisnya, kemiskinan selalu di atas rata-rata," kata dia terkait dengan jambore yang membahas radikalisme dan kemiskinan tersebut.
     
    DAVID PRIYASIDHARTA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.