Kecemasan Wiranto Soal Ideologi Teror yang Merambah Anak-anak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menkopolhukam Wiranto (tengah) bersama Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menkumham Yasonna Laoly (kiri) dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian (kanan), memberikan keterangan kepada awak media, di kantor Kementerian Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Jakarta Pusat, 8 Mei 2017. Pemerintah secara resmi memutuskan membubarkan dan melarang kegiatan yang dilakukan organisasi kemasyarakatan Hizbut Tahrir Indonesia. TEMPO/Imam Sukamto

    Menkopolhukam Wiranto (tengah) bersama Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menkumham Yasonna Laoly (kiri) dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian (kanan), memberikan keterangan kepada awak media, di kantor Kementerian Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Jakarta Pusat, 8 Mei 2017. Pemerintah secara resmi memutuskan membubarkan dan melarang kegiatan yang dilakukan organisasi kemasyarakatan Hizbut Tahrir Indonesia. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, BOGOR - Ada kecemasan yang disampaikan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto ketika memberikan sambutan saat menghadiri acara ulang tahun Badan Nasional Penanggulangan Teroris ke-7 di Markas BNPT Hambalang, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Senin, 17 Juli 2017. Kecemasan yang kemudian disampaikan dalam bentuk peringatan kewaspadaan itu terutama menyangkut ideologi teror yang kini merambah anak-anak.

    Wiranto mencemaskan penggunaan teknologi informasi atau cyber yang kini banyak digunakan kelompok radikal untuk menyebarkan ideologi teror, terutama kepada anak-anak di bawah umur. Menurut Wiranto, penyebaran informasi, paham, dan kaderisasi radikal yang dilakukan kelompok teroris sudah merambah berbagai lini. "Mereka membangun opini menggunakan teknologi Internet," ujarnya. Mereka, kata Wiranto, memasukkan ideologi teror dan sesat kepada remaja. "Bahkan dengan Internet, mereka mengajarkan masyarakat membuat bom," ucapnya.

    Karena itu, langkah pemerintah memblokir Telegram bukan semata mencari sensasi, usil, dan kurang kerjaan. Namun bertujuan menghadang aktivitas kelompok teroris di Indonesia yang menggunakan Telegram sebagai fasilitas komunikasi.

    Menurut Wiranto, kelompok teroris kini mengincar remaja, pelajar, bahkan anak-anak usia TK untuk mengajarkan mereka memegang dan menggunakan senjata api, "Banyak tayangan bukti kesadisan kelompok ini mengajarkan anak-anak cara menyembelih," katanya.

    Sehingga Wiranto mewanti-wanti tim antiteroris di BNPT lebih bekerja keras di usianya yang ketujuh tahun. "Saat ini, teroris menjadi ancaman yang sangat besar bukan hanya di Indonesia, tapi juga dunia," ujarnya.

    Maka dari itu, peran BNPT sangat penting. BNPT juga sering diundang dalam pertemuan-pertemuan dengan beberapa negara, baik tingkat regional, multilateral, maupun internasional, "Saya bersama Kepala BNPT Bapak Suhardi Alius sering diundang dalam berbagai pertemuan karena peran Indonesia dalam memerangi terorisme," tuturnya.


    M. SIDIK PERMANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.