Polisi Buru Penyandang Dana Bom Panci Bandung, Siapa?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisimelaukan olah TKP di area ledakan bom di Kampung Kubang Beureum, Kelurahan Sekejati, Bandung, Jawa Barat, 8 Juli 2017. Bom panci itu meledak sekitar pukul 15.30 di rumah kontrakan Agus. TEMPO/Prima Mulia

    Polisimelaukan olah TKP di area ledakan bom di Kampung Kubang Beureum, Kelurahan Sekejati, Bandung, Jawa Barat, 8 Juli 2017. Bom panci itu meledak sekitar pukul 15.30 di rumah kontrakan Agus. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Detasemen Khusus Antiteror 88 Mabes Polri terus memburu anggota sel baru kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bandung terkait bom panci Bandung. Setelah menangkap 5 orang yang diduga teroris dari kelompok itu, polisi menduga masih ada anggota lain yang berkeliaran. 

    "Masih kami kembangkan, termasuk siapa fai (penyandang dana)," kata Yusri saat menggeledah kediaman RS di Desa Margahayu Tengah, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, Jumat, 14 Juli 2017.  Kelima orang yang telah ditangkap Densus terkait ledakan di kamar kontrakan, di kawasan Buah Batu, Kota Bandung itu ialah AW, AAS, K, AR, dan RS.

    Baca juga: Kasus Bom Panci Bandung, RS Sempat Posting Video di Instagram

    Yusri menjelaskan, mereka tergabung dalam sel baru JAD Bandung. Sel baru JAD Bandung ini telah merencanakan aksi teror di sejumlah tempat di Kota Bandung. Bahkan, mereka sempat mencoba meledakan bom panci di salah satu kafe di Braga dan Astana Anyar, namun bom yang mereka rakit urung meledak.

    "Mereka itu belum terstruktur. Mereka ingin membuat sel baru setelah JAD Bandung Raya kita tangkap terkait peledakan di Kampung Melayu. Mereka belajar soal jihad dan radikalisme dati internet," kata Yusri.

    Sehari setelah penangkapannya dalam kaitan bom panci Bandung, polisi menggeledah kediaman orangtua RS di Margahayu, Kabupaten Bandung. Di sana, polisi menemukan buku-buku soal jihad dan senjata tajam.

    IQBAL T. LAZUARDI S


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.