Menteri Kesehatan Jelaskan Soal 9 Juta Anak Indonesia Stunting

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kesehatan, Nila Moeloek. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menteri Kesehatan, Nila Moeloek. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Masalah gizi buruk kronis (stunting) yang dihadapi masyarakat Indonesia masih parah. Pemerintah akan melakukan pemantauan gizi pada daerah-daerah dengan jumlah stunting tinggi. "Kami memetakan kembali mana daerah yang sudah baik, belum baik, dan mana yang butuh perhatian khusus," kata Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani seusai rapat Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan tentang stunting di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Rabu, 12 Juli 2017.

    Rapat tersebut dipimpin Wakil Presiden Jusuf Kalla dan dihadiri sejumlah menteri. Selain Puan, menteri lain yang hadir diantaranya Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Pandjaitan, Menteri Kesehatan Nina Moeloek, Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo.

    Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan ada 37,2 persen atau sekitar 9 juta anak di Indonesia mengalami stunting. Dalam tiga tahun terakhir. Namun dalam survei terakhir, kata Nina, jumlah stunting mengalami penurunan menjadi 27,5 persen. "Tapi dengan pemantauan status gizi," kata Nina.

    Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, sehingga tinggi anak terlalu pendek untuk usianya. Kondisi kekurangan gizi ini terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah lahir. Namun stunting baru terlihat setelah anak berusia dua tahun. Stuntinf berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, dan menurunkan produktivitas. Jumlah kasus stunting tertinggi umumnya berada di Indonesia bagian timur.

    Nila mengatakan penanganan stunting dilakukan tidak hanya dengan memberikan makanan tambahan. Tapi juga dilakukan dengan faktor eksternal, misalnya perbaikan sanitasi, dan fasilitas air bersih. "Kalau tidak ada air bersih, dia juga tidak pernah cuci tangan, ya, cacing jadi ikut masuklah. Kemudian ibu anemia, atau ibu hamil kurang darah," kata Nila.

    Menurut Nila, ibu hamil yang kurang gizi akan menyebabkan anak lahir dengan berat badan rendah. Padahal seribu hari pertama kehidupan sangat penting bagi perkembangan anak selanjutnya.

    AMIRULLAH SUHADA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.