Pemkab Purwakarta Luncurkan Program SDD

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemkab Purwakarta Luncurkan Program SDD

    Pemkab Purwakarta Luncurkan Program SDD

    INFO NASIONAL - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purwakarta, Jawa Barat, meluncurkan program percontohan layanan kesehatan gratis bertajuk “Sampurasun Dokter Desa (SDD)” di Desa Cibukamanah, Kecamatan Cibatu, Rabu, 12 Juli 2017. Program ini menempatkan seorang dokter dan dua perawat di setiap tiga desa.

    Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengatakan tiap warga yang sakit, bisa langsung melapor melalui pesan pendek atau saluran media sosial, seperti Facebook, Twitter, dan Instagram, yang terkoneksi dengan layanan Play Store dengan kata sandi “Ogan Lopian” di gawai pintar milik dokter dan perawat.

    Setelah mendapatkan laporan lengkap dari warga, seperti nama, alamat, dan jenis penyakit yang diderita, dokter dan perawat akan langsung mendatangi rumah si pasien menggunakan ambulans. Kalau memerlukan tindakan rawat inap, pasien akan langsung dibawa ke balai pengobatan SDD. "Jam berapa pun warga perlu layanan kesehatan, dokter dan perawat siap menjemput juga merawatnya," ujar Kang Dedi, sapaan akrab Dedi Mulyadi.

    Layanan kesehatan SDD bertujuan mempermudah dan mempercepat layanan kepada mayarakat yang selama ini jika sakit harus datang ke pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) yang jaraknya cukup jauh. "Padahal, pasien perlu pertolongan segera," ucapnya.

    Dedi memastikan melalui layanan SDD, tingkat kesehatan masyarakat akan lebih baik. Selain itu, lebih meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya berperilaku sehat. Dedi menargetkan program SDD akan tuntas pada akhir Juli 2017. Saat ini, ia sedang menyeleksi 70 dokter kontrak. “Yang lolos akan langsung ditempatkan di desa-desa yang menjadi pusat pelayanan SDD,” tuturnya.

    Menurut Dedi, para dokter kontrak itu nantinya akan mendapatkan honor tetap bulanan minimal Rp 7,5 juta dan para perawat minimal Rp 5 juta. "Tapi jika digabung dengan honor kinerja, pendapatan per bulannya bisa mencapai Rp 15-20 juta per bulan," ujarnya.

    Untuk penilaian kinerja dokter, akan digunakan logika terbalik. "Kalau di program BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial), kinerja dokter dinilai dengan banyaknya pasien yang dilayani. Di program SDD, justru dokter dengan tingkat kunjungan sedikit dinilai berhasil dan dapat honor besar," ucapnya.

    Alasannya, jika pasien yang datang ke SDD itu jumlahnya dari waktu ke waktu terus mengalami penurunan, si dokter dan perawat yang bekerja di desa itu telah berhasil mengimunisasi berbagai jenis penyakit serta menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya  kesehatan.

    Ayu Mutiara, dokter yang telah ditugaskan di program SDD di Desa Cibukamanah, Cirende, dan Wanawali, mengaku senang. Menurut Ayu, program SDD lebih menukik pada upaya promosi kesehatan. "Artinya, titik berat layanan kami lebih pada upaya pencegahan penyakit melalui upaya membuka mata warga tentang pentingnya pola hidup sehat," ujarnya.  

    Ayu mengatakan dibutuhkan waktu minimal dua bulan untuk memetakan derajat kesehatan dan jenis sebaran penyakit di masyarakat. "Tapi umumnya penyakit di masyarakat pedesaan tak jauh dari ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dan diare yang disebabkan pengaruh sanitasi lingkungan yang kurang baik," tuturnya.

    Kepala Desa Cibukamanah Karwita mengapresiasi program SDD. Sebab, ada warganya yang harus menempuh perjalanan jauh sekitar 10 kilometer untuk berobat ke Puskesmas. "Dengan program SDD, jarak tempuh ke balai pengobatan hanya berjarak satu kilometer saja," katanya.  (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?