Analisa Mantan Napi Cibiru Penyebab Bom Panci di Bandung Meledak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi kontrakan milik Ibu Epon di Jalan Kubang Bereum No. 35, Sekejati, Buah Batu, Bandung, pasca sebuah bom panci meledak Sabtu sore, 8 Juli 2017. Kontrakan ini disewa oleh Agus Wiguna yang kini menjadi terduga teroris. Foto: Humas Polda Jawa Barat

    Kondisi kontrakan milik Ibu Epon di Jalan Kubang Bereum No. 35, Sekejati, Buah Batu, Bandung, pasca sebuah bom panci meledak Sabtu sore, 8 Juli 2017. Kontrakan ini disewa oleh Agus Wiguna yang kini menjadi terduga teroris. Foto: Humas Polda Jawa Barat

    TEMPO.CO, Bandung - Mantan perakit bom dari kelompok Cibiru, Kurnia Widodo, menduga bahan pembuat bom yang dirakit Agus Wiguna, 21 tahun, itu berbahan TATP (triacetone triperoxide) dalam kasus Bom Bandung. Bom panci itu meledak dengan sendirinya saat ditinggal si pemilik untuk berjualan. Ia menyebut bahan tersebut sangat sensitif akan gesekan dan panas. Selain itu, untuk membuat bom jenis tersebut terbilang mudah dan murah.

    "Jenis peledak yang sensitif suka dipakai untuk menginisiasi peledak yang lain yang tidak sensitif," ujar Kurnia kepada Tempo, Senin, 10 Juli 2017.

    Baca: Tito Karnavian: Pelaku Bom Panci Bandung Radikal karena Internet  

    Seperti yang diberitakan sebelumnya, sejumlah saksi menyebutkan, di kamar Agus sesaat setelah ledakan ditemukan sejumlah material yang diduga bahan baku bom. Seperti panci, paku, mur, serbuk putih dan kabel. Bahan baku tersebut disinyalir merupakan rangkaian bom panci.

    Adapun, indikasi lain terkait dugaan benda tersebut meledak ialah, suhu tempat penyimpanan benda itu yang cukup panas. Menurut saksi yang tinggal bersebelahan dengan kamar Agus, kamar milik pria yang sehari-hari berjualan bakso itu sangat kecil--berukuran 3X1 meter-- dan tanpa ventilasi sedikitpun. Ditambah, atap kamar kontrakan itu berbahan asbes yang kuat menyerap panas.

    "Mungkin (saat itu) disimpan dekat sumber panas," kata lulusan Teknik Kimia ITB itu.

    Selain itu, ia mengatakan, bom tersebut apabila meledak akan memunculkan asap putih dan bau bahan kimia. Keterangan tersebut, cocok dengan keterangan saksi yang masuk ke dalan kamar Agus sesaat setelah ledakan. Saksi mengatakan, setelah ledakan, di kamar Agus dipenuhi asap putih dan bau menyengat seperti bahan-bahan kimia.

    Jika menilik ke belakang, ada beberapa senyawa kimia yang kerap dijadikan bahan peledak utama bom panci. Kasus bom panci di Bandung, misalnya. Pihak Kepolisian menemukan bahan peledak TATP (triacetone triperoxide). Bahan ini memiliki daya ledak tinggi dengan kecepatan rambat reaksi mencapai 5.300 meter per detik, termasuk bahan peledak kategori primer. Berbeda dengan jenis primer, bahan peledak kategori sekunder tidak mudah meledak.

    Baca: Tito: Perlu Patroli Internet untuk Cegah Kasus Bom Panci Bandung

    Bahan lain yang digunakan adalah gliserin (glyserine). Cairan itu adalah bahan baku untuk membuat nitrogliserin, cairan yang mudah meledak.

    Kurnia mengatakan, untuk membuat bom tersebut cukup mudah. Selain itu biayanya terbilang sangat murah. Karena, bahan-bahannya bisa menggunakan cairan-cairan yang bebas dijual di pasar.

    "Cara buatnya mudah. Pakai peroksida (dari pengencer cat rambut), aseton (dari cairan pembersih kuku) dan asam sebagai katalis (bisa pake pembersih lantai)," kata dia.

    Sementara itu, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Barat Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus menyebutkan, Agus merakit bom tersebut seorang diri. Ia merakit berdasarkan panduan dari sebuah situs di internet.

    "Dia itu pemain baru. Jadi masih cetek. Barangkali ada salah mencampur bahan atau disimpan di tempat panas," kata Yusri.

    Namun, sampai saat ini, ia katakan Detasemen Khusus Antiteror 88 yang menyelidiki kasus ini belum memberi keterangan soal bahan baku dan pemicu ledakan di kamar Agus.

    "Belum. Masih diselidiki Densus," ucap Yusri.

    IQBAL T. LAZUARDI S


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.