Senin, 28 Mei 2018

Muhammadiyah: Literasi Jadi Benteng dari Serangan Radikalisme  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir (tengah) menyampaikan keterangan kepada wartawan usai pertemuan dengan Presdien Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, 13 Januari 2017. ANTARA/Puspa Perwitasari

    Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir (tengah) menyampaikan keterangan kepada wartawan usai pertemuan dengan Presdien Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, 13 Januari 2017. ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan literasi menjadi benteng terbaik dari invasi ideologi dan paham radikal. Tak lupa, bekal agama yang moderat.

    Haedar mengatakan literasi dapat membantu masyarakat cerdas dan berpikir kritis. Masyarakat yang terdidik bisa melawan paham tersebut dengan cara yang bukan radikal. "Karena kalau radikal dilawan radikal, akan menimbulkan radikal yang baru," ujarnya saat ditemui di Masjid Akbar Kemayoran, Jakarta, Minggu, 9 Juli 2017.

    Menurut dia, paham radikal sering timbul karena dipicu paham lainnya. Misalnya, radikal Islam mungkin muncul karena paham sekuler atau komunis.

    Haedar mengatakan literasi merupakan upaya jangka panjang. Jika diperlukan penindakan, langkah yang ditempuh harus sesuai jalur hukum dan dilakukan saksama tanpa gegabah.

    Menurut Haedar, paham radikal yang melahirkan kekerasan dan menimbulkan korban tidak akan diterima Islam, sama seperti tindakan ISIS. Dia mengatakan gerakan tersebut kini menjadi masalah besar bagi Islam dan dunia. Dia mengatakan tak ada toleransi bagi tindakan radikal seperti itu.

    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Dua Pendaki Mahasiswi Univesitas Parahyangan Gapai Seven Summits

    Pada 17 Mei 2018, dua mahasiswi Universitas Parahyangan, Bandung, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, menyelesaikan Seven Summits.