Sajak Ibu Iringi Pemakaman Ibunda Wiji Thukul

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung menunggu waktu pemutaran film saat nonton bersama film

    Pengunjung menunggu waktu pemutaran film saat nonton bersama film "Istirahatlah Kata-kata" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 22 Jnauari 2017. Film ini mengangkat pelarian aktivis Wiji Thukul pada tahun 1997-1998, serta sajak-sajak karya Wiji Thukul. ANTARA/Yudhi Mahatma

    TEMPO.CO, Surakarta -  Satu puisi berjudul 'Sajak Ibu' mengiringi pemakaman ibunda Wiji Thukul, Sayem Harjo Suwito di Tempat Pemakaman Umum Purwoloyo, Solo, Sabtu 8 Juli 2017. Puisi karya Wiji Thukul itu dibacakan beberapa saat sebelum makam ditimbun.

    Puisi itu dibacakan oleh adik bungsu Wiji Thukul, Wahyu Susilo. Aktivis perlindungan buruh migran itu membacakan puisi karya kakaknya sembari berurai air mata. Kakaknya, Nasri berkali-kali menyodorkan helai tisu untuk mengusapnya.

    Menurut Wahyu, Sayem merupakan sosok ibu yang sangat lembut sekaligus tegas. "Beliau mendidik kami di tengah keterbatasan, termasuk masalah ekonomi," katanya usai pemakaman.

    Kasih sayang Sayem untuk anak-anaknya itu tergambar dalam puisi yang dibuat oleh Wiji Thukul. "Puisi itu ditulis pada tahun 1986," katanya.

    Wahyu mengatakan selama 20 tahun ibunya menanti kabar tentang Wiji Thukul yang hilang menjelang runtuhnya rezim orde baru. "Ibu selalu memikirkan keberaaan Wiji Thukul," katanya.

    Hilangnya penyair itu membuat Sayem sering sakit-sakitan. Ibu tiga anak itu menghembuskan nafas terakhirnya di Jakarta, Jum'at petang kemarin. "Ibu tinggal bersama saya sejak 2009," kata Wahyu.

     

    'Sajak Ibu

    Karya Wiji Thukul

     

    ibu pernah mengusirku minggat dari rumah

    tetapi menangis ketika aku susah

    ibu tak bisa memejamkan mata

    bila adikku tak bisa tidur karena lapar

    ibu akan marah besar

    bila kami merebut jatah makan

    yang bukan hak kami

    ibuku memberi pelajaran keadilan

    dengan kasih sayang

    ketabahan ibuku

    mengubah rasa sayur murah

    jadi sedap

    ibu menangis ketika aku mendapat susah

    ibu menangis ketika aku bahagia

    ibu menangis ketika adikku mencuri sepeda

    ibu menangis ketika adikku keluar penjara

    ibu adalah hati yang rela menerima

    selalu disakiti oleh anak-anaknya

    penuh maaf dan ampun

    kasih sayang ibu

    adalah kilau sinar kegaiban Tuhan

    membangkitkan haru insan

    dengan kebajikan

    ibu mengenalkan aku kepada Tuhan.'

     

    Sayem Harjo Suwito wafat di Jakarta pada Jumat 7 Juli 2017. Istri Wiji Thukul, Dyah Sujirah atau yang sering disapa Sipon mengatakan selama ini, almarhumah ikut bersama anak bungsunya yang berada di Jakarta, Wahyu Susilo.

     

    Almarhumah wafat di usia 85 tahun. Sayem memiliki tiga anak, Wiji Thukul, Nasri dan Wahyu Susilo. Beberapa karangan bunga terlihat di gang masuk kediaman Sipon yang berada di kampung Jagalan, Solo. Salah satunya dari Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki.

     

    Wiji Thukul merupakan aktivis yang lantang menentang Orde Baru. Menjelang jatuhnya Orde Baru, penyair itu hilang dan belum diketahui keberadaannya hingga saat ini.

     

    AHMAD RAFIQ

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pidato Jokowi Terkait Kinerja dan Capaian Lembaga Tinggi Negara

    Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR pada 16 Agustus 2019. Inilah hal-hal penting dalam pidato Jokowi.