Cegah Kebakaran Hutan, Riau Siapkan Modifikasi Cuaca Hujan Buatan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas satgas kebakaran hutan dan lahan Provinsi Riau berusaha memadamkan kebakaran lahan gambut yang terjadi di Desa Rimbo Panjang, Kampar, Riau, 27 Agustus 2016. ANTARA/Rony Muharrman

    Petugas satgas kebakaran hutan dan lahan Provinsi Riau berusaha memadamkan kebakaran lahan gambut yang terjadi di Desa Rimbo Panjang, Kampar, Riau, 27 Agustus 2016. ANTARA/Rony Muharrman

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Satuan Tugas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Riau menyiapkan teknik modifikasi cuaca (TMC) hujan buatan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan. Satu unit pesawat Cassa milik TNI Angkatan Udara serta 20 ton garam (NaCl) disiapkan untuk penyemaian awan di langit Riau.

    "Diharapkan mendukung upaya mencegah kebakaran lahan untuk Riau bebas asap," kata Wakil Komandan Satgas Karhutla Riau Kolonel I Nyoman Parwata, Rabu, 5 Juli 2017.

    Baca juga: Polda Riau dan BMKG: Kerawanan Kebakaran Hutan 2017 Cukup Tinggi

    Nyoman mengatakan, Operasi teknik modifikasi cuaca akan dikendalikan dari Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Pekanbaru. Sejumlah personel telah dikerahkan pada dua lokasi Pos Pengamatan Meterorologi di Dumai dan Pelalawan. Penyemaian garam diutamakan pada wilayah pesisir Riau yang saat ini memasuki musim kemarau.

    "Belakangan ini sudah mulai kebakaran lahan di wilayah Dumai, Meranti dan Pelalawan, namun sudah bisa kami atasi," ujarnya.

    Kepala Balai Besar TMC Trihandoko Seto menjelaskan, teknik modifikasi cuaca merupakan suatu upaya intervensi manusia pada sistem awan untuk meningkatkan intensitas curah hujan di suatu tempat. Sejumlah partikel higroskopik disemai ke dalam awan cumulus agar tetes air mengumpul sehingga proses curah hujan menjadi lebih cepat dalam jumlah cukup banyak.  "TMC akan segera kami lakukan terutama di wilayah rawan kebakaran," ujarnya

    Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Pekanbaru Otto Sukisno mengatakan, untuk wilayah Riau saat ini masih berada pada musim kemarau hingga dua bulan ke depan. Meski demikian potensi hujan masih terjadi dengan kriteria kurang dari 150 milimeter. "Saat ini musim kemarau tapi bukan berarti tidak ada hujan," ucapnya.

    Dia menjelaskan, potensi hujan dalam intensitas ringan hingga sedang terjadi disebabkan adanya indeks suhu permukaan laut di wilayah Pasifik sebelah timur atau sebelah barat Sumatera sekitar Selat Malaka mengalami peningkatan suhu panas sehingga memberikan potensi penguapan curah hujan untuk wilayah Riau. Kondisi tersebut dinilai tepat untuk melakukan teknik modifikasi cuaca hujan buatan terutama guna mencegah kebakaran hutan. "Untuk Riau umumnya masih berawan dan hujan," ujarnya.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.