Basarnas: Helikopter yang Jatuh Dalam Kondisi Layak Terbang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepulan asap membumbung dari lokasi jatuhnya helikopter Basarnas di kawasan lereng gunung Butak Desa Canggal, Candiroto, Temanggung, Jateng, 2 Juli 2017. AP Photo

    Kepulan asap membumbung dari lokasi jatuhnya helikopter Basarnas di kawasan lereng gunung Butak Desa Canggal, Candiroto, Temanggung, Jateng, 2 Juli 2017. AP Photo

    TEMPO.CO, Semarang - Helikopter Basarnas yang jatuh di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, dalam kondsisi layak terbang. Tercatat pesawat itu belum melewati 600 jam terbang sejak diserahkan ke Basarnas akhir 2013 lalu.

    “Baru terbang 571.30 jam, sejak diterima 31 Desember 2013,” kata Deputi Bidang Potensi Basarnas Dody Trisunu menjelaskan kondisi helikopter Basarnas yang jatuh di hadapan Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat RI di Semarang, Selasa, 4 Juli 2017.

    Baca juga: Kotak Hitam Helikopter Basarnas Dibawa ke Jakarta

    Dody memaparkan spesifikasi pesawat dan kronologi jatuhnya helikopter Basarnas di Gunung Butak. Desa Canggal, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung. Menurut Dody, helikopter yang naas itu jenis Dauphin AS 365 N3+ dengan nomor registarsi HR 3602. “Yang dioperasionalkan oleh TNI angkatan laut,” kata Dody.

    Ia memastikan helikopter melakukan operasi atau terbang atas perintah dari Diropslat atas permintaan kepala kantor SAR Semarang. Pilot pesawat juga mendapat briefing pada
    pukul 14.15 hingga 14.25 dari direktur operasional melalui sambungan telepon.

    Briefieng itu berisi tugas HR 360 (helikopter) untuk memantau dan mengevakuasi korban semburan kawah Sileri di Dieng Kabupaten Banjarnegara. “Kemudian pilot minta izin untuk refuell di Bandara Ahmad Yani Semarang dan rencana take of ke Dieng pukul 15,30 WIB,” kata Dody.

    Menurut dia, rute penerbangan dari bandara Ahmad Yani Semarang ke Dieng dengan jarak kurang lebih 32 NM dan estimasi penerbangan selama 20 menit dengan ketinggian pesawat 3.700 feet dan ketinggian sekitar lokasi 2.600 feet hingga 8.000 feet. “Helikopter terbang pukul 16.00 dan lost contact pukul 16.17 WIB,” katanya.

    General Manager Air Nav Cabang Semarang, Kristanto, menyatakan sebelum menerima rencana penerbangan heli tersebut ia menerima informasi ada kawah gunung Dieng bereaksi. Dia pun mencari tahu apakah efek kawah yang sedang bereaksi itu mengganggu penerbangan. “Saat itu karena belum dapat informasi lengkap, kami simpulkan siaga,” kata Kristanto.

    Pada pukul 15.00 ia menerima rencana penerbangan misi helikopter Basarnas dalam rangka melihat situasi langsung kondisi Kawah Sileri di Dieng. Ia pun memproses dalam sebuah data dengan mengisi semua rencana penerbangan yang diinformasikan di seluruh stasiun Air Nav di Solo dan Yogyakarta yang dilalui heli tersebut.

    EDI FAISOL

    Video Terkait:
    Suasana Duka Selimuti Pelepasan 8 Jenazah Korban Jatuhnya Helikopter Basarnas




     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.