Dari Rekaman Telepon Patrialis Muncul Istilah Eceran dan Grosiran  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa kasus dugaan suap 'judicial review' di Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar mendengarkan pembacaan dakwaan atas dirinya di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 13 Juni 2017. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Terdakwa kasus dugaan suap 'judicial review' di Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar mendengarkan pembacaan dakwaan atas dirinya di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 13 Juni 2017. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Hakim Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar dan perantara pemberi suap Kamaludin menggunakan kata sandi "eceran" dan "grosiran" untuk mendekati hakim MK yang lain. Hal itu terungkap dalam sadapan percakapan antara Patrialis dan Kamaludin pada 30 November 2016 yang diputar dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin, 3 Juli 2017.

    Baca: KPK Pertimbangkan Permohonan Patrialis Akbar Jadi Tahanan Kota  

    Patrialis: Ndak mau?
    Kamaludin: He-eh, dia tahu katanya
    Patrialis: Oh hah?
    Kamaludin: Nggak mau kalau itu katanya
    Patrialis: Yang itu yang grosiran itu kan?
    Kamaludin: Iya dia bilang gawat itu katanya (tertawa)
    Patrialis: Iya iya
    Kamaludin: Bener (tertawa) iya
    Patrialis: Iya memang
    Kamaludin: Iya dia jangan jangan deh jangan bos jangan deh katanya (tertawa).
    Patrialis: Itu kan pedagang grosiran
    Kamaludin: Betul betul pedagang ini. Pedagang enggak bukan partai kecil pasti ininya apa? Bukan partai kecil. Eee sendal jepit enggak mau dia.
    Patrialis: Enggak ada eceran enggak ada
    Kamaludin: Enggak ada eceran grosir (tertawa)
    Patrialis: ah terus antum udah temui adinda itu,
    Kamaludin: oh belum. Nanti jangan ana ada lagi ini temennya juga temennya dia ana utus dia aja jadi seolah olah enggak ada hubungan ama ana.
    Patrialis: Oh kalo gitu gini deh
    Kamaludin: Hemmm
    Patrialis: Ana juga lagi pikirin deh
    Kamaludin: Ah itu lebh...
    Patrialis: Kalo ada pe...ada kalau enggak kita pakai pesawat lain juga boleh.
    Kamaludin: Boleh pesawat lain bos siap
    Patrialis: Heem iya ane
    Kamaludin: Mantap bos, antum di mana?
    Patrialis: Ane pikirin, ini udah mau pulang nih
    Kamaludin: Mau makan dulu enggak?
    Patrialis: Kita abis makan nih hah.

    Jaksa penuntut umum mempertanyakan mengenai istilah yang ada dalam percakapan itu. "Apa maksud saudara mengatakan 'yang grosiran kan?'," tanya jaksa penuntut umum KPK Lie Putra Setiawan.

    Baca juga:
    Suap Patrialis Akbar, Rekaman Ini Ungkap Terdakwa Merayu Hakim

    Patrialis yang hadir sebagai saksi dalam sidang tersebut menjawab, "Tidak paham saya, Pak Kamal yang menyampaikan."

    "'Yang grosiran itu itu adalah kata-kata saksi," kata Jaksa Lie menegaskan. Lalu, Patrialis menjawab, "Berarti ada yang putus."

    Patrialis menjelaskan ada kalimat yang terputus dari rekaman tersebut. Ia lalu menjelaskan versinya. "Artinya yang mengucapkan kalimat grosiran pertama itu adalah Pak Kamal, terus saya reflek itu bukan grosiran," tutur Patrialis.

    Majelis Hakim Nawawi Pamolango menanyakan maksud grosiran. "Jadi apa maksud grosiran itu?" Patrialis menjawab, "Tidak begitu paham saya yang Mulia."

    Jaksa Lie mencecar lagi soal istilah grosiran. "Pada menit pertama detik 54 'Itu kan pedagang grosiran' kembali ini kata-kata Anda, tetap tidak mengerti?" kata dia.

    Menurut Patrialis, ia menyampaikan istilah itu sebagai respon terhadap ucapan Kamal. "Itu atas respon saya terhadap perkataan Pak Kamal."

    Jaksa Lie terus mencecar soal istilah itu. "Pada menit ke-2 detik ke-4 saudara mengatakan juga 'gak ada eceran', tetap tidak paham?" tanya jaksa Lie.

    "Kalau ada grosiran berarti eceran tidak ada," jawab Patrialis.

    "Berikutnya saudara mengatakan 'antum sudah menghubungi adinda itu'. Adinda itu maksudnya siapa?" Jaksa Lie bertanya lagi.

    Patrialis menjelaskan yang dimaksud adinda adalah Surya. "Karena kan Pak Kamal menanyakan terus kepada saya, saya tidak bisa silakan saja," ia menjelaskan mengapa Surya harus dihubungi.

    Mendengar jawaban Patrialis, jaksa Lie melanjutkan pertanyaannya. "Maksud saksi agar Kamaludin mempergunakan juga jasa Surya ini untuk menghubungi Suhartoyo?" Lie bertanya lagi. Patrialis tidak membantah. "Betul."

    "Lalu berikutnya menit ke-2 detik ke-28 'kalau ada ya ada, kalau enggak kita pakai pesawat lain juga boleh'. Apa maksudnya itu? Itu kalimat saksi," tanya jaksa Lie.

    "Saya tidak ingat itu yang Mulia, mohon maaf," jawab Patrialis.

    "Tapi pembicaran itu ada?" tanya jaksa Lie. Patrialis menjawab, "Selama rekaman itu ada, pasti ada pembicarannya. Saya dari awal tidak membantah tapi ujungnya saya tidak pernah bicara masalah uang."

    Simak pula: Sidang Suap Patrialis Akbar, Saksi Akui Keluarkan Duit untuk MK

    Patrialis menjadi saksi untuk terdakwa pemilik PT Impexindo Pratama, PT Cahaya Timur Utama, PT Cahaya Sakti Utama dan CV Sumber Laut Perkasa Basuki bersama dengan General Manager PT Impexindo Pratama Ng Fenny yang didakwa memberikan uang sejumlah 50 ribu dolar AS (sekitar Rp 690 juta), Rp 4,043 juta dan menjanjikan uang Rp 2 miliar kepada hakim konstitusi Patrialis Akbar untuk memengaruhi putusan Perkara Nomor 129/PUU-XIII/2015 terkait uji materi atas UU No 41 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

    Dalam dakwaan disebutkan Patrialis menyarankan Basuki melakukan pendekatan kepada Hakim Suhartoyo yang belum menyampaikan pendapat dengan menggunakan jasa Lukas (seorang pengacara yang dekat dengan Hakim Suhartoyo dan dikenal oleh Patrialis Akbar) atau menggunakan jasa Surya (saudara dari Patrialis Akbar), namun pada akhirnya Basuki tidak menggunakan jasa Surya.

    Di sidang, Patrialis Akbar juga menjelaskan pertemuannya dengan Basuki Hariman. Ia mengaku mengenal Basuki karena dikenalkan oleh Kamaludin.

    ANTARA | DANANG FIRMANTO

    Video Terkait:
    Sidang Basuki Hariman, Patrialis Jadi Saksi, Kamaludin Tanyakan Putusan Perkara




     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.