Polisi Kantongi 3 Sketsa Wajah Pelaku Penyerangan Novel  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyerangan Novel Baswedan

    Penyerangan Novel Baswedan

    TEMPO.CO, Jakarta - Polda Metro Jaya mengatakan telah mengantongi tiga sketsa wajah pelaku penyerangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Baswedan. Namun hingga saat ini kepolisian masih enggan merilis sketsa tersebut.

    "Ada tiga (sketsa), ya. Nanti akan kami benahi kembali dengan saksi yang akan diperiksa untuk keakuratan gambar itu," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono saat ditemui di Polda Metro Jaya, Senin, 3 Juli 2017.

    Baca: Polisi Minta Saksi Periksa Sketsa Wajah Pelaku Penyiraman Novel

    Menurut Argo, sketsa-sketsa itu dibuat berdasarkan keterangan dari tiga saksi di sekitar lokasi kejadian di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Argo menuturkan kepolisian masih akan memeriksa keterangan saksi-saksi terkait dengan sketsa tersebut.

    "Secepatnya (akan dicek ulang ke saksi)," ujarnya.

    Sebelumnya, Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Mochamad Iriawan menyatakan akan segera mengkonfrontasi saksi dengan sejumlah sketsa wajah terduga pelaku penyiraman terhadap Novel.

    Baca: Novel Baswedan Akan Didampingi KPK saat Diperiksa Polisi

    “Keterangan dari saksi, ada yang melihat dari sisi samping kiri, kanan, samping belakang, dan lain-lain,” ucapnya pada 30 Juni lalu.

    Kepolisian telah berbagi informasi dengan KPK terkait dengan perkembangan kasus ini. Sebelumnya, Polda Metro Jaya telah memeriksa empat saksi yang diduga pelaku penyerangan. Namun keempatnya dibebaskan dengan alasan alibi yang kuat.

    Novel disiram air keras oleh dua orang tak dikenal saat perjalanan pulang seusai salat subuh di masjid di lingkungan rumahnya di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara.

    EGI ADYATAMA | DANANG FIRMANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.