Kamis, 20 September 2018

Wartawan Perang Tempo Berbagi Kisah, dari Afganistan sampai ISIS  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Diskusi Tempo bersama tiga wartawan konflik di berbagai negara, (ki-ka) Qaris Tajudin Wartawan Konflik Afghanistan, Pramono Wartawan Konflik Suriah, Mahardika Satria Hadi Wartawan Konflik Marawi, dalam acara Ngabuburit Wartawan Perang Tempo yang bertajuk, Menembus Jantung ISIS (dari Suriah Hingga Marawi) di Gedung Tempo, Jakarta, 16 Juni 2017. TEMPO/Fardi Bestari

    Diskusi Tempo bersama tiga wartawan konflik di berbagai negara, (ki-ka) Qaris Tajudin Wartawan Konflik Afghanistan, Pramono Wartawan Konflik Suriah, Mahardika Satria Hadi Wartawan Konflik Marawi, dalam acara Ngabuburit Wartawan Perang Tempo yang bertajuk, Menembus Jantung ISIS (dari Suriah Hingga Marawi) di Gedung Tempo, Jakarta, 16 Juni 2017. TEMPO/Fardi Bestari

    TEMPO.CO, Jakarta - Tiga wartawan perang Tempo, Qaris Tajudin, Stefanus Pramono, dan Mahardika Satria Hadi menjadi pembicara dalam acara ngabuburit dan diskusi di Lantai 5 Gedung Tempo, Palmerah Barat, Jakarta, Jumat, 16 Juni 2017. Berbekal pengalaman meliput konflik di tiga negara berbeda, mereka berbagi cerita sambil menunggu waktu berbuka puasa.

    Baca juga: Laporan Tempo dari Marawi

    Qaris Tajudin membuka diskusi dengan pengalamannya meliput perang di Afghanistan pada 2001 silam. Mulai dari sejarah Presiden Mohammad Najibullah dilengserkan oleh Mujahidin, hingga akhirnya Taliban mengambil alih kuasa.

    "Saya datang saat tentara Amerika menyerang Afghanistan," kata Qaris. Dipilihnya Qaris untuk terjun langsung ke lapangan juga terkait pendidikannya. Ia merupakan alumnus Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir.

    Situasi memanas ketika serangan teror 11 September 2001 terjadi di Amerika Serikat. Al Qaeda yang dituduh dalang serangan diminta untuk menyerahkan Osama Bin Laden. Hingga permintaan itu dipenuhi, kata Qaris, militer Amerika akan tetap menduduki Afghanistan.

    Qaris mengisahkan, nyawanya terancam ketika seorang milisi Taliban memaksa ikut dalam mobil yang dinaiki Qaris bersama seorang fixer. Ia lalu memberi salam, tapi ucapan Assalamu alaikum itu dinilai milisi Taliban tidak fasih. Saat itu,  Taliban menganggap semua orang asing adalah lawan.

    Milisi itu lalu mengeluarkan senjata dan akan menembak Qaris. Fixer lalu mengancam, jika Qaris ditembak, maka milisi itu juga harus menembaknya. Milisi itu kemudian bertanya siapa fixer itu, yang kemudian menyebutkan bahwa ia masih kerabat sejumlah war lord yang disegani. Milisi itu kemudian mengurungkan niatnya mengeksekusi Qaris.

    "Sebenarnya bukan karena tidak fasih, tapi karena mereka biasa dengan dialek Pashtun saja," kata Qaris, yang kini memimpin Tabloid Bintang, salah satu media grup Tempo.

    Cerita serupa dikisahkan oleh Pramono saat meliput perang di Suriah pada 2012. Ia datang 1,5 tahun setelah perang saudara di sana pertama kali pecah. Sejak itu, perang masih terus berlangsung hingga saat ini.

    Ini merupakan pengalaman pertama Pramono meliput perang. Ia mengaku sempat bertemu wartawan lain di sana yang terkejut mendengar minimnya pengalaman ia meliput perang. "Mereka mengatakan 'are you crazy? This is the worst war ever'," kata Pramono menirukan mereka.

    Kehancuran akibat perang Suriah dinilai Pramono sangat besar. Setiap hari ia melihat orang-orang mati di depannya. Ia juga menjelaskan awal mula konflik yang diakbiatkan oleh ketidakpuasan kepada pemerintahan Bashar Al Assad.

    Kisah yang tidak bisa dilupakan oleh Pramono adalah ketika ia berhasil membaur dengan masyarakat sipil. "Saya sampai ditawari menikahi seorang gadis Suriah," kata Pramono, yang kini menjadi redaktur investigasi Majalah Tempo.

    Cerita serupa juga dikisahkan oleh Mahardika saat datang ke Marawi, Filipina, akhir Mei 2017. Ia datang ke sana untuk melihat buruknya akibat perang antara pemerintahan Filipina dengan milisi teroris Maute.

    Ia mengisahkan sulitnya masuk ke titik terdekat lokasi konflik di Marawi. "Saya melewati lima pos pemeriksan yang merupakan gabungan dari militer setempat dan polisi," kata dia. Ketika diperiksa itu, ia menunjukkan kartu pers Tempo. Tentara terheran-heran dan bertanya, kenapa tabloid infotainmen meliput perang. Rupanya di Filipina ada tabloid bernama Tempo, yang berisi berita hiburan.

    Menurut Mahardika, konflik di Mindanau, Filipina memang sudah terjadi sejak tahun 1970-an. Gerakan seprartis mulai bergejolak setelah kecewa dengan pemerintah. Kelompok separatis ini, kata dia, terpecah dalam beberapa kelompok. Yang paling lama dan bertahan hingga saat ini adalah kelompok Abu Sayyaf.

    "Kekecewaannya, kelompok-kelompok yang diharapkan memperjuangangkan itu malah berdamai dengan pemerintah," kata dia.

    Baca: Detik-detik Menegangkan Tim Evakuasi Menemukan 16 WNI di Marawi  

    Dalam sesi tanya jawab diskusi tentang wartawan perang ini, beberapa pertanyaan muncul. Terutama terkait kekhawatiran meningkatknya radikalisme di Indonesia. Menanggapi hal tersebut, Pramono mengatakan Indonesia masih cukup jauh dari adanya ancaman perang. "Saya pikir kita masih jauh dari sana, dari seperti Suriah. Di sini tak ada propagandis yang cukup hebat," kata dia.
    EGI ADYATAMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Memecahkan Rekor Dunia di Berlin Marathon

    Eliud Kipchoge, pelari Kenya, memecahkan rekor dunia marathon dengan waktu 2 jam 1 menit dan 39 dalam di Marathon. Menggulingkan rekor Dennis Kimetto.