Tiga Mahasiswa Unair Surabaya Taklukkan Gunung Denali Alaska  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pria mendaki gunung. factorymedia.com

    Seorang pria mendaki gunung. factorymedia.com

    TEMPO.CO, Jakarta -Tiga mahasiswa pecinta alam asal Universitas Airlangga Surabaya berhasil menaklukkan gunung tertinggi di Amerika Utara, Mc. Kinley Denali di Alaska. “Ini adalah misi organisasi UKM Wanala Airlangga Surabaya yang sudah direncanakan sejak 1994,” kata Manager Airlangga Indonesia Denali Expetidion (Aidex), Wahyu Nur Wahid kepada Tempo pada Kamis, 15 Juni 2017.

    Baca: Hasil SNMPTN, Universitas Airlangga Terima 1.865 ...

    Ketiga mahasiswa tersebut bernama Muhammad Faishal Tamimi, Mochamad Roby Yahya, dan Yasak. Mereka mengarungi badai dan timbunan salju selama lebih dari 21 hari. Hingga akhirnya pada Kamis dinihari, Wahyu mendapat laporan tiga mahasiswa itu tersebut telah berhasil mencapai puncak Denali di ketinggian 6.164 meter di atas permukaan laut.

    Mereka bertiga berangkat dari Indonesia sejak 16 Mei lalu. Ketiganya dibekali peralatan lengkap, termasuk oksigen dan perlengkapan khusus yang dibeli dari Amerika Serikat. Mereka dibiayai Universitas Airlangga Surabaya, PT PP Properti, dan PT Pegadaian senilai Rp 800 juta.

    “Ketiga orang itu sebelumnya mengikuti seleksi cukup ketat, termasuk harus lari 1,5 jam tanpa henti,” ucap Wahyu. Selain itu, para pendaki juga digembleng di beberapa gunung Jawa Timur. Hal itu dilakukan sebagai tahapan penyesuaian suhu di Denali yang dingin.

    Hari pertama mendaki, mereka sudah dihadang badai salju. Jalan setapak dipenuhi salju sedalam satu meter. Masing-masing dari mereka juga harus membawa beban perbekalan 50 kilogram. Apalagi di sana tidak ada jasa porter atau tukang panggul.

    “Mereka sempat mengalami demam dan pusing di atas gunung, karena cuaca yang dingin,” ucap Wahyu. Suhu rata-rata saat itu mencapai minus 48 derajat celcius. Praktis daya tahan tubuh menjadi patokan kuat-tidaknya seseorang mencapai puncak. Ditambah kondisi jalan yang curam dan dipenuhi rintangan jurang.

    Bahkan di ketinggian 14.100 kaki, atau tepat di kamp 4, mereka sempat diterpa badai salju dengan kecepat 50 knot per jam. Suhu berubah drastis menjadi minus 62 derajat celcius. Ketiganya tertahan di tempat itu selama sepekan bersama 80 pendaki lain dari berbagai negara.

    Wahyu memahami bahwa kesulitan terberat mengarungi Denali yakni cuaca yang sangat dingin. Tubuh yang biasa tinggal di kawasan tropis dipaksa menyesuaikan dengan keadaan. “Ini sangat jauh berbeda dengan gunung-gunung di Indonesia,” tutur dia.

    Namun semua derita itu terbayar saat mereka berhasil mengibarkan Bendera Indonesia di puncak Denali. Kata Wahyu, ini adalah pendakian ke lima dari tujuh gunung yang menjadi target mereka.

    Baca: SBMPTN 2017, Bangku Bidikmisi Unair Masih Kosong untuk 312 Orang

    Sebelumnya pada 1994 mereka telah menaklukkan Carztenz Pyramid di Papua, pada 2009 Kilimanjaro Tanzania, pada 2011 Elbrus Rusia, pada 2013 Aconcagua Argentina, dan 2017 Denali Alaska. Rencananya mereka juga akan menaklukkan Vinson Massif Antartika dan Everest Himalaya.

    AVIT HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.