Lailatul Qadar, Masjid Salman Siap Tampung Seribu Jemaah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Santri Pondok Pesantren Baitul Musthofa membaca Alquran di lapangan depan pondok pesantren di Mojosongo, Surakarta, 7 Juli 2015. Dengan bercahayakan sentir mereka menyambut malam ke-21 Bulan ramadan atau malam Lailatul Qadar dengan khidmat dan sederhana. TEMPO/Bram Selo Agung

    Santri Pondok Pesantren Baitul Musthofa membaca Alquran di lapangan depan pondok pesantren di Mojosongo, Surakarta, 7 Juli 2015. Dengan bercahayakan sentir mereka menyambut malam ke-21 Bulan ramadan atau malam Lailatul Qadar dengan khidmat dan sederhana. TEMPO/Bram Selo Agung

    TEMPO.CO, Bandung – Untuk mengantisipasi para jemaah yang berburu lailatul qadar, pengelola Masjid Salman Institut Teknologi Bandung menyiapkan tempat bagi lebih dari seribu orang untuk melakukan iktikaf atau bermukim sementara di masjid guna beribadah. Kegiatan iktikaf ini dimulai sejak hari ke-21 Ramadan atau 16 Juni hingga 24 Juni 2017.

    Lailatul qadar, atau malam yang lebih baik daripada seribu bulan, merupakan malam yang istimewa. Siapa pun orang beriman pasti berharap bertemu dengan keberkahan malam yang pahala ibadahnya lebih besar dibanding beribadah selama 83 tahun (seribu bulan) terus-menerus itu.

    Manajer Bidang Pelayanan dan Pemberdayaan Masyarakat Masjid Salman ITB Angga Kusnan Qodafi mengatakan tidak ada kuota atau pembatasan jumlah peserta iktikaf. Rencananya tahun ini panitia acara menyediakan kids corner untuk anak balita ke atas. “Insya Allah tahun ini difasilitasi agar masjid lebih ramah anak,” katanya, Selasa, 13 Juni 2017.

    Baca juga:
    Memburu Seribu Bulan ke Mekah dan Demam Mudik (1)
    Memburu Lailatul Qadar di Mekah: Dengkul Copot (2)

    Iktikaf merupakan sunah Rasulullah Muhammad SAW yang dilakukan pada 10 hari terakhir bulan Ramadan. Peserta yang berminat cukup membayar Rp 25 ribu secara langsung ataupun lewat bank. Fasilitas yang diperoleh peserta adalah konsumsi, makanan ringan, dan minuman hangat, serta sejumlah acara kajian dari pagi hingga petang.

    Selain di Masjid Salman, masjid besar lain, seperti di Pusat Dakwah Islam Bandung dan Masjid Al-Ukhuwah Balai Kota Bandung, menghelat iktikaf. Berbeda dengan di Masjid Salman, di Masjid Al-Ukhuwah, peserta iktikaf bebas datang bergabung di masjid tanpa pendaftaran dan biaya. Pada tengah malam, jemaah iktikaf bisa mengikuti tausiyah dan muhasabah selama 1-2 jam, dilanjutkan dengan zikir, membaca Al-Quran, lalu sahur dan salat subuh berjemaah.

    “Waktu iktikaf biasanya sekitar pukul 10 malam hingga subuh. Peserta bisa bawa makan-minum sendiri, atau ke kantin masjid juga buka,” kata pengurus Dewan Kemakmuran Masjid Al-Ukhuwah, Wahyu Arifin, di kantornya, Rabu, 14 Juni 2017.

    Panitia acara Ramadan di Masjid Salman, Ariestyo Wahyu Tri Wibowo, mengatakan aturan dan ketentuan syarat bagi peserta iktikaf akan disampaikan langsung di hari pertama, Jumat, 16 Juni 2017. Soal lama waktu iktikaf harian, panitia tidak membatasi peserta dan menghargai perbedaan pendapat soal waktu iktikaf. “Itu perbedaan pendapat. Cuma memang paling kuat pendapatnya harus full seharian di masjid. Tapi kita tidak membatasi jemaah di sini,” ujarnya.

    ANWAR SISWADI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.